Tiga Bentuk Disiplin

Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah.

Ada begitu banyak makna penting dari ibadah Ramadhan yang kita lakukan dari tahun ke tahun. Salah satu makna penting yang harus kita peroleh dari ibadah Ramadhan adalah betapa kaum muslimin harus betul-betul disiplin dalam melaksanakan nilai-nilai kebenaran yang datang dari Allah swt. Untuk itu, manusia  telah dibimbing dengan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuknya sehingga manusia bisa membedakan mana jalan hidup yang benar dan mana yang salah, Allah swt berfirman: 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ

 (beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS Al Baqarah [2]:185).

Paling tidak, ada tiga bentuk disiplin dalam kebenaran yang amat penting untuk kita laksanakan yang merupakan didikan dari ibadah Ramadhan. Pertama, disiplin dalam menunaikan kewajiban yang harus ditunaikan, apalagi kewajiban ini tidak hanya ditujukan kepada kita tapi juga kepada generasi sebelum kita, ini berarti tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mau melaksanakan segala bentuk kewajiban dalam hidup ini, karena setiap generasi terdahulu juga telah dibebankan kewajiban kepada mereka, sebagai apapun mereka, Allah swt berfirman:



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS Al Baqarah [2]:183).

Dalam kaitan disiplin melaksanakan kewajiban, utang juga sesuatu yang harus kita tunaikan, baik utang kepada Allah swt maupun kepada manusia. Karenanya bila kewajiban puasa belum kita tunaikan dengan sebab-sebab tertentu yang memang ditentukan, maka kewajiban itu tidak gugur begitu saja, tapi harus ditunaikan dengan berpuasa pada kesempatan lain atau menggantinya dengan fidyah sebagaimana ketentuannya, Allah swt berfirman:



أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui (QS Al Baqarah [2]:184).

Ini semua menunjukkan bahwa kedisiplinan tidak dimaksudkan untuk menyusahkan manusia, tapi tetap ada kemudahan sebagaimana yang dikehendaki manusia, Allah swt berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (QS Al Baqarah [2]:185).

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

 Bentuk disiplin Kedua yang harus kita tunjukkan dari nilai pendidikan ibadah Ramadhan adalah disiplin dalam waktu, yakni menggunakan waktu sebaik mungkin dalam konteks pengabdian kepada Allah swt, karenanya berpuasa dan ibadah lainnya di dalam Islam ditentukan  waktu-waktunya. Saat fajar atau subuh tiba, maka kaum muslimin harus menghentikan makan dan minum serta hubungan suami isteri untuk memulai puasa, sedangkan bila maghrib tiba, kita harus segera makan dan minum untuk mengakhiri puasa pada hari ini meskipun harus menunda beberapa saat pelaksanaan shalat maghrib. Bila saat bersenang-senang dengan makan dan minum serta hubungan suami isteri ada batas waktunya, maka kita bisa tarik lebih jauh bahwa hidup kitapun ada batas waktunya karenanya kita amat dituntut mengefektifkan penggunaan waktu dalam kerangka pengabdian kepada Allah swt karena hidup kita memang sebenarnya untuk itu sebagaimana firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (QS Adz Dzariyat [51]:56).

Ketiga, disiplin yang harus dihasilkan dari ibadah ramadhan adalah dalam mentaati hukum, hal ini karena sebagai manusia kita amat membutuhkan ketentuan-ketentuan hukum dan Allah swt paling tahu tentang hukum seperti apa yang cocok untuk kita. Karenanya melalui ibadah Ramadhan kita dilatih untuk disiplin dalam hukum sehingga sesuatu yang semula boleh menjadi tidak boleh untuk dilakukan pada siang hari dan baru dibolehkan pada malam hari seperti makan dan minum serta melakukan hubungan seksual dengan isteri. Bila sesuatu yang amat penting bagi manusia, yakni makan dan minum serta hubungan seksual sudah bisa dikendalikan, insya Allah kita bisa mengendalikan diri dan disiplin dalam hukum-hukum lain yang memang sangat penting untuk mengatur kehidupan manusia, Allah swt berfirman:



ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ اْلأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ

Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak Mengetahui (QS Al Jatsiyah [45]:18).



Oleh karena itu, berbahagialah kita mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk membina diri melalui ibadah Ramadhan dan kita menjadi lebih bahagia lagi bila sukses menjalankan ibadah Ramadhan yang membuat kita menjadi semakin bertaqwa kepada Allah swt, apalagi hal ini merupakan kunci kemuliaan manusia dihadapan Allah dan Rasul-Nya.



Demikian khutbah Jumat kita yang singkat pada hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama, amien ya rabbal alamin.
Tags: ,

Drs H Ahmad Yani

Mubalig, Penulis, Trainer Dai Dan Manajemen Masjid, Ketua LPPD Khairu Ummah, Majelis Dai Paguyuban Ikhlas dan Sekretaris Bidang Dakwah PP DMI (Dewan Masjid Indonesia). Komunikasi dan Pesan Buku ke HP/WhatsApp 08129021953 Pin 275d0bb3 Rek BSM 7012350478 BMI 3010008561

0 comments

Leave a Reply