MENCARI HARTA SECARA BATHIL


MANAJEMEN HARTA
Segala sesuatu ada pertanggungjawabannya. Bila pertanggungjawaban umur, ilmu, jasmani hanya satu yang diminta yakni untuk apa dihabiskan, untuk apa diamalkan dan untuk apa digunakan. Pertanggungjawaban harta ternyata ada dua, yakni darimana diperoleh dalam arti halal apa tidak dan untuk apa dipergunakan. Karena itu, harta yang kita miliki meskipun tidak banyak, harus kita kelola dengan baik sehingga manfaatnya bisa lebih besar.
Buku “Manajemen Harta” memandu kita untuk memanaj harta dengan baik, Buku kecil setebal 132 halaman ini membahas 10 topik, antara lain: Kedudukan Harta, Prinsip Etis Kerja Muslim, Etika Bisnis, Mencari Harta Secara Bathil, Prinsip Menggunakan Harta, Pemurah dan Kikir, Masyarakat Zakat, Zakat dan Manajemen Pengelolaannya, Hikmah Zakat dan Kiat-Kiat Mengatasi Kemiskinan.
Buku yang dijual seharga Rp 18.000 dapat anda pesan ke HP/WhatsApp 08129021953. Pin 275d0bb3. Diantara Topik Yang Dibahas adalah:

MENCARI HARTA SECARA BATHIL

Setiap manusia pasti memiliki berbagai kebutuhan dalam hidupnya, mulai kebutuhan makan dan minum, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, penambahan ilmu pengetahuan dan berbagai daya dukung lainnya untuk menjalani kehidupan secara baik. Untuk bisa memenuhi berbagai kebutuhan itu manusia harus berusaha mencari rizki atau harta, bahkan bila perlu, harta itu harus dicarinya meskipun dengan susah payah dan harus pergi hingga ke ujung-ujung dunia karena memang Allah swt telah menyediakan rizki untuk makhluk-Nya dengan mudah dan kita harus berusaha untuk mengambilnya, inilah yang kemudian sering disebut dengan rizki itu di tangan Tuhan, Allah swt berfirman: Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan (QS Al Mulk [67]:15).
Begitu pentingnya mencari nafkah sehingga hari Jum’at yang merupakan hari peribadatan tidak mesti harus dijadikan sebagai hari libur, karena sebenarnya yang penting adalah Jum’atannya, bukan liburnya sehingga saat ibadah Jum’at segala urusan harus ditinggalkan dan sesudah jum’atan boleh diteruskan lagi. Meskipun mencari nafkah itu sangat ditekankan, namun hal itu harus dilakukan dengan cara-cara yang benar atau halal, bukan menghalalkan segala cara, apalagi sampai mencari kebenaran hukum agar sesuatu yang tidak halal seolah-olah menjadi halal, Allah swt berfirman: Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui (QS Al Baqarah [2]:188).

            Di dalam ayat lain, Allah swt berfirman: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu (QS An Nisa [4]:29)..

Bentuk-Bentuk Kebathilan.
Dalam mencari harta, ada banyak bentuk kebathilan yang biasa dilakukan manusia, hal ini harus kita hindari karena tidak ada keberkahan dari harta yang kita peroleh meskipun jumlahnya banyak bila memang tidak halal, bahkan hak itu justeru membawa kegelisahan. Bila dikelompokkan, ada empat bentuk mencari harta secara  bathil.

1.     MENIPU.
Memperoleh harta dengan cara menipu merupakan hal yang sangat tidak dibenarkan meskipun pada dasarnya ia mencari harta yang memang dihalalkan seperti perdagangan atau jual beli. Karena itu antara pedagang dengan pembeli jangan sampai terjadi saling menipu. Contoh lain dalam menipu guna mendapatkan rizki adalah mark up dan ini yang banyak terjadi seperti membeli barang dengan harga sepuluh ribu tapi dilaporkannya dua belas ribu rupiah dengan tanda bukti faktur senilai dua belas ribu rupiah atau diperintah membeli barang 100 buah tapi dibelinya hanya 95 buah dengan uang senlai 100 buah, begitu pula dengan membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) 30 liter tapi ditulisnya pada faktur 35 liter. Hal lain yang tergolong menipu adalah seseorang tidak masuk ke kantor untuk kerja, tapi ia menulis absen sebagai tanda bahwa ia masuk sehingga upah atau gajinya tidak dipotong, bahkan iapun mendapatkan uang transport. Tipu menipu dalam urusan mencari rizki membuat seseorang tidak diakui sebagai umat Islam sehingga akan dimasukkan ke dalam neraka, Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا وَالْمَكَرَ وَالْخِدَاعُ فِى النَّارِ
Barangsiapa yang menipu bukanlah termasuk golongan kami, karena tindakan makar dan penipuan terletak di neraka (HR. Abu Naim).
 
Manakala seseorang mencari rizki dengan cara melakukan penipuan atau tidak jujur, meskipun banyak yang ia peroleh, maka tidak ada keberkahan yang didapatkannya, Rasulullah saw bersabda:

اَلْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَالَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُوْرِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا
Jual beli itu didasarkan atas kehendak memilih selama keduanya belum berpisah, jika keduanya berlaku jujur dan jelas, maka diberkahilah jual belinya, dan jika keduanya berdusta serta saling menyembunyikan, maka dihapuslah berkah atas jual belinya (HR. Bukhari dan Muslim).

2.     SUAP MENYUAP.
Suap menyuap biasa dilakukan orang terhadap aparat pemerintah atau pejabat swasta untuk mencapai tujuan yang menguntungkan dirinya dan bisa jadi merugikan pihak lain. Dengan menyuap atau menyogok, urusannya memang bisa berhasil atau menjadi lebih lancar, karena memang merugikan pihak lain. Termasuk suap menyuap adalah memberikan hadiah kepada pejabat pemerintah atau swasta, baik sebelum suatu urusan dilayani atau diselesaikan maupun sesudahnya. Disamping itu, termasuk mencari harta secara bathil adalah bila seseorang mendapatkan rizki karena menjadi perantara antara orang yang hendak menyuap dengan orang yang disuap, karenanya semua yang terkait dengan urusan suap menyuap akan dilaknat oleh Allah swt sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah saw:
لَعَنَ اللهُ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ وَالرَّائِشَ
Allah melaknat orang yang menyuap dan disuap dan menjadi perantara antar keduanya (HR. Abu Daud, Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah).
            Karena itu pelakunya akan dimasukkan ke dalam neraka, Rasulullah saw bersabda:

الرَّاشِى وَالْمُرْتَشِى فىِ النَّارِ

Penyuap dan yang disuap di neraka (HR.Thabrani).
Dalam kehidupan di negeri kita, banyak kasus suap menyuap ini, misalnya seseorang yang melamar kerja menyogok orang yang mengurus penerimaan tenaga kerja agar ia diterima, ada pula orang yang telah diterima tendernya di suatu instansi memberikan hadiah atau tanda terima kasih kepada pejabat di instansi itu, mungkin memang ia sudah berjanji kepada sang pejabat atau ia ingin agar tendernya dimasa datang dimenangkan. Tegasnya, begitu banyak kasus yang terkait dengan sogok menyogok sehingga kerugian dirasakan akibatnya oleh masyarakat, baik langsung maupun tidak langsung.

             Dalam buku Ensiklopedi Hukum Islam, jilid 5 hal 1506, Sogok menyogok dilarang antara lain karena dua alasan. Pertama, dari segi pelaksanaannya, pemberian dan penerimaan sogok tidak mengandung unsur ikhlas karena dilakukan dengan alasan-alasan tertentu yang tidak dapat dibenarkan. Penyogok menghendaki agar keinginannya dipenuhi, sedangkan penerima sogok secara diam-diam atau terang-terangan untuk meluluskan keinginan penyogok atau paling tidak, tidak mampu lagi menerapkan prinsip amar ma’ruf nahi munkar karena terikat dengan pemberian dari penyogok. Kedua, dari segi tujuannya, pemberian sogok dilakukan untuk tujuan yang melanggar aturan agama sebab membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar. Yang dikehendaki dalam sogok menyogok merupakan yang bertentangan dengan agama.
Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak orang yang menjadi sasaran sogokan oleh orang yang menyogok, misalnya pertama, pejabat tinggi agar bisa menaikkan pangkat atau jabatan orang yang menyogok. Kedua, aparat pemerintah yang bertugas melayani masyarakat untuk mengabulkan maksud mereka dengan waktu yang lebih cepat atau orang yang tidak memenuhi persyaratan tapi harus dikabulkan maksudnya. Ketiga, polisi agar tidak menghukum orang yang melanggar ketentuan tidak memproses kesalahan penyogok hingga ke pengadilan. Keempat, guru atau dosen agar mau memberikan nilai yang baik kepada muridnya yang menyogok. Kelima, hakim agar tidak memvonis bersalah atau mengurangi hukuman si penyogok. Keenam, politisi yang menyogok rakyat melalui “money politic” atau “politik uang” agar memilih mereka. Dan bisa jadi masih banyak kelompok orang yang menjadi sasaran penyogokan, baik diminta maupun ia yang minta disogok.
3. MENCURI.
Mencuri, mencopet dan merampok serta segala sebutan yang senada dengan itu adalah mengambil milik atau hak orang lain secara tidak benar sehingga yang memilikinya mengalami kerugian, baik moril maupun materil. Ini merupakan upaya mencari rizki secara bathil dan mendapatkannya, baik sedikit maupun banyak menjadi rizki yang haram, bahkan pelakunya seharusnya mendapat hukuman yang berat karena sangat merugikan orang yang dicurinya yang telah berusaha dengan susah payah dan memerlukan waktu yang lama untuk mencari harta, ketika sudah dapat apalagi dalam jumlah yang banyak dalam sekejap harta itu dicuri orang, apalagi sang pencuri sampai melakukan tindakan kekerasan yang tidak hanya mengakibatkan kerugian secara fisik tapi juga mental. Keharusan menjatuhkan hukuman yang berat kepada pencuri sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah swt: Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS Al Maidah [5]:38).
4.     RIBA.
Secara harfiyah, riba artinya kelebihan atau tambahan, Maksudnya adalah kelebihan harta dalam suatu muamalah dengan tidak ada imbalan atau gantinya dalam utang piutang. Misalnya si A pinjam uang kepada si B sebesar Rp 1.000.000, lalu si B harus mengembalikan sebesar Rp 1.300.000, maka kelebihan Rp 300.000 itulah yang disebut dengan riba dengan segala bentuknya.
Dalam Islam, riba merupakan sesuatu yang diharamkan Allah Swt, karenanya orang yang berusaha mencari rizki dengan cara mencari riba termasuk mencari rizki secara bathil, meskipun legalitas hukumnya telah dibenarkan oleh manusia. Karena itu, bagi seorang muslim yang telah memahami dan menyadari kebathilan dalam riba, ia seharusnya tidak mengambil riba itu meskipun dalam kesepakatan dengan manusia ia masih berhak mengambilnya, bila ini dilakukan, maka ia termasuk orang yang dapat membuktikan keimanannya dan terhindar dari ancaman siksa yang pedih, Allah swt berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya (QS Al Baqarah [2]:278-279).
5. Berjudi.
             Berjudi, apapun bentukmya seperti taruhan dalam olah raga, SMS, dan sebagainya untuk mendapatkan harta merupakan perbauatan syaitan yang harus dijauhi, Allah swt berfirman: Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS Al Maidah [5]:90)
6. Menadah.
Membeli barang curian apalagi untuk dijual lagi merupakan sesuatu yang terlarang, karena sang pembeli akan ikut menanggung dosa pencurian itu, kecuali bila tidak tahu, Rasulullah saw bersabda:

مَنِ اشْتَرَى سِرْقَةً وَهُوَ يَعْلَمُ اَنَّهَا سِرْقَةٌ فَقَدِ اشْتَرَكَ فِى اِثْمِهَا وَعَارِهَا.
Siapa yang membeli barang curian sedang dia tahu bahwa barang itu barang curian, maka ia turut serta mendapatkan dosa dan kejelekannya (HR. Baihaki)
7. Menjual Barang Haram.
Memperdagangkan barang-barang yang diharamkan untuk dikonsumsi seperti bangkai, darah, babi, binatang yang disembelih bukan atas nama Allah, minuman keras, dll merupakan sesuatu yang dilarang, Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ اللهَ وَرَسُوْلَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِوَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيْرِوَاْلأَصْنَامِ.
Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli minuman keras, bangkai, babi dan berhala (HR. Ahmad dan Abu Daud).
            Dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa meskipun kita amat membutuhkan harta, tetap harus kita peroleh harta itu dengan cara yang halal, begitu memang seorang mukmin yang sejati sehingga diserukan oleh Allah swt.
Tags: , ,

Drs H Ahmad Yani

Mubalig, Penulis, Trainer Dai Dan Manajemen Masjid, Ketua LPPD Khairu Ummah, Majelis Dai Paguyuban Ikhlas dan Sekretaris Bidang Dakwah PP DMI (Dewan Masjid Indonesia). Komunikasi dan Pesan Buku ke HP/WhatsApp 08129021953 Pin 275d0bb3 Rek BSM 7012350478 BMI 3010008561

0 comments

Leave a Reply