SAYA HARUS JADI KHATIB


Masjid Darussalam berada persis di depan rumah saya. Sejak kecil bila shalat Jumat saya duduk di shaf 3 atau 4, duduk di tengah sejajar dengan mimbar kayu jati ukiran Jepara, wakaf dari Keluarga H. Djahran. Seingat saya, kalau sudah jam 11.30 masjid sudah penuh dengan jamaah. Ketika itu yang mendapat giliran menjadi Khatib adalah H.M. Ali yg tinggal di Gang Bidan. Gang itu disebut Gang Bidan karena ada Bidan Ibu Najmi yang berpraktek di rumahnya.  
Saat waktu Jumat tiba, H. Ali belum ada di depan mimbar, karena ia datang terlambat meski belum masuk waktu zuhr, ia merasa kurang etis untuk masuk ke barisan depan dengan melewati shaf-shaf yang sudah penuh, sementara masjid tidak ada pintu depan yang langsung masuk ke tempat imam. Maka Engkong H. Abd Rahman berinisiatif menggantikannya, beliau memang biasa membaca khutbah Jumat, iapun naik ke mimbar. Dalam berkhutbah, beliau selalu menggunakan buku khutbah yang berbahasa Arab, makanya disebut membaca khutbah, sedangkan H. Ali biasanya berkhutbah dengan teks tulisan tangan dengan Arab Melayu. Buku tulisnya sama dengan yang digunakan anak sekolah, bergaris-garis dengan sambul berwarna biru dongker. Setelah mengucap salam, H. Abd Rahman duduk di atas mimbar, saya perhatikan ia merogoh-rogoh kantong (saku) bajunya, ternyata buku khutbah yang dicarinya tidak ada, mungkin karena bukan gilirannya sehingga ia tidak membawa buku khutbah. Di mimbar juga tidak ada buku khutbah setelah dicarinya, adzanpun selesai dan mestinya khutbah sudah dimulai. Ternyata H. Abd Rahman tidak bisa memulai khutbah karena tidak ada bukunya yang harus dibaca.           
Kepada para khatib yg duduk di shaf pertama ia bertanya: "ada yang bawa buku khutbah nggak?."   
Mereka menjawab “tidak ada.”
Maka engkong KH. Salim yang menjadi ketua dewan imam dan khatib bertanya: "Emang ini giliran siapa?."
H. Abd Rahman menjawab: "Giliran H. Ali."
Kata kong H. Salim: "coba panggil, ada apa tidak H. Ali."
Maka dipanggillah H. Ali, ternyata dia menyahut "ada" dan H. Salim meminta jamaah memberi jalan untuk H. Ali masuk. Sehingga H. Abd Rahman turun dari mimbar dan H. Ali naik ke mimbar untuk berkhutbah. 
Sejak saat itulah, tertanam keinginan besar saya: "saya harus bisa jadi khatib, masa sih tidak ada buku/teks khutbah sampai tidak bisa berkhutbah."   
Alhamdulillah saya bisa berkhutbah meski tanpa teks sejak mahasiswa. Saya bersyukur bisa menyaksikan peristiwa yang dialami kong H. Abd Rahman dan mengambil hikmahnya. Bahkan saya tidak hanya bisa berkhutbah dan ceramah, tapi juga menulis banyak buku khutbah dan ngajarin atau mengkader para khatib dan mubaligh di berbagai daerah di penjuru negeri.
Tags: , ,

Drs H Ahmad Yani

Mubalig, Penulis, Trainer Dai Dan Manajemen Masjid, Ketua LPPD Khairu Ummah, Majelis Dai Paguyuban Ikhlas dan Sekretaris Bidang Dakwah PP DMI (Dewan Masjid Indonesia). Komunikasi dan Pesan Buku ke HP/WhatsApp 08129021953 Pin 275d0bb3 Rek BSM 7012350478 BMI 3010008561

1 comments

  1. Subhanallah, kejadian yang menginspirasi, dan ketika diambil himmah darinya, maka berbuah hasil yang luar biasa. Barakallahu fikum ya Ustadz.

Leave a Reply