TERLAMBAT IBADAH JUMAT


            Salah satu isyarat yang harus kita tangkap dari nama hari menjadi nama ibadah adalah betapa penting ibadah itu. Begitulah Jumat yang menjadi nama hari sekaligus nama ibadah. Bahkan ada satu surat khusus di dalam Al Quran yang dinamai juga dengan nama ini, yakni surat Al Jumuah.
            Sebagai ibadah yang sangat penting, shalat Jum’at semestinya dilaksanakan oleh kaum muslimin dengan penuh kesungguhan, keseriusan dan kekhusyuan. Diantara bentuk kesungguhan yang harus ditunjukkan adalah para jamaah seharusnya sudah hadir di tempat pelaksanaan ibadah Jum’at sebelum waktu Jum’at tiba atau setelat-telatnya lima menit sebelum khatib naik mimbar dan lebih bagus lagi bila jamaah bisa datang lebih pagi lagi sehingga ia akan memperoleh nilai keutamaan yang besar.
Prosesi ibadah Jumat dimulai saat khatib naik mimbar pada saat waktu zuhr sudah tiba, lalu mengucapkan salam, duduk, dikumandangkan adzan dan setelah itu khutbah Jumat disampaikan. Karena rangkaian ibadah Jumat dimulai dengan khatib naik mimbar, maka seharusnya seluruh jamaah sudah hadir di tempat ibadah Jumat, bila tidak maka ia termasuk orang yang terlambat. Keharusan kita bersegera dalam ibadah Jumat disebutkan dalam firman Allah swt: Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimua jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS Al Jumuah [62]: 9-10).
             Sebab turunnya ayat di atas adalah suatu ketika, ibadah Jumat sedang berlangsung dan Rasulullah saw sedang menyampaikan khutbah. Tiba-tiba masuk ke kota Madinah kafilah dagang yang membawa barang-barang. Para sahabat satu demi satu meninggalkan masjid menuju para pedagang itu guna mendapatkan barang-barang yang amat mereka butuhkan, Ibnu Abbas ra menceritakan bahwa sahabat yang tersisa dalam mendengarkan khutbah hanya 12 orang, sesuatu yang amat memprihatinkan. Melihat kenyataan itu, Rasulullah saw dengan perasaan prihatin meneruskan khutbahnya, lalu turunlah ayat Al Qur’an yang menegur dengan keras bahwa tidak sepantasnya seorang mukmin meninggalkan ibadah Jumat hanya karena godaan perniagaan. Dalam konteks ini, maka umat Islam seharusnya sudah meninggalkan segala urusan sehingga sudah bisa hadir di tempat ibadah Jumat sebelum khatib naik mimbat.
Namun, kenyataan menunjukkan, setahu saya tidak ada masjid atau tempat ibadah Jumat yang jamaahnya sudah hadir seratus persen saat khatib naik mimbar, bahkan ada pula jamaah yang hadir baru sekitar 10-20 persen, jamaah baru hadir 100 persen ketika khutbah hampir selesai, bahkan ada pula jamaah baru tiba di tempat ibadah Jumat saat iqamat dikumandangkan dan yang lebih tragis adalah sampai ada yang menjadi masbuk yakni tertinggal rekaat dalam shalat Jumat. Begitulah diantara yang saya lihat dan rasakan sebagai khatib sejak puluhan tahun, bahkan pernah ada orang bertanya melalui radio kepada seorang ustadz tentang bolehkah tayamum untuk shalat Jumat. Tentu sang ustadz bertanya dengan penuh heran: “apa di masjid tidak ada air?.” Ternyata bukan tidak ada air, tapi saat khutbah sudah selesai masih banyak jamaah yang harus berwudhu, bila ditunggu antriannya akan ketinggalan shalat Jumat.   
Paling tidak, ada dua akibat yang dirujuk dari hadits yang berkaitan dengan terlambat ibadah Jumat.

1.  Tidak Dicatat Malaikat.
Keterlambatan hadir dalam ibadah Jumat merupakan sesuatu yang sangat tidak baik meskipun shalat Jumatnya sah dan menggugurkan kewajiban, namun kehadirannya dalam ibadah Jumat tidak dicatat oleh malaikat karena malaikat sudah tutup buku dan mendengarkan khutbah, ini mengisyaratkan kepada kita bahwa bila malaikat yang sebenarnya tidak membutuhkan pesan-pesan khutbah saja mau mendengarkan khutbah, seharusnya apalagi kita yang sangat membutuhkan ilmu dan nasihat dari para khatib.
Dalam konteks kehadiran, semakin cepat kita hadir, semakin besar nilai pahala yang kita peroleh. Rasulullah saw bersabda:
مَنِ اغْتسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَ نَّمَا قَرَّبَ بُدْ نَةً، وَمَنْ رَاحَ فىِ السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَ نَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَ نَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا اَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَ نَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَ نَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَاِذَا خَرَجَ اْلاِمَامُ حَضَرَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُوْنَ الذِّكْرَ.
Barangsiapa yang mandi seperti mandi junub pada hari Jum'at, kemudian dia pergi ke masjid pada kesempatan pertama, maka pahalanya seperti pahala berkorban dengan seekor unta. Barangsiapa pergi ke masjid pada kesempatan kedua, maka pahalanya seperti pahala berkorban dengan sapi. Barangsiapa pergi ke masjid pada kesempatan ketiga, maka pahalanya seperti pahala berkorban dengan seekor kambing. Barangsiapa pergi ke masjid pada kesempatan keempat, maka pahalanya seperti pahala berkorban dengan ayam. Barangsiapa tiba ke masjid pada kesempatan kelima, maka pahalanya seperti pahala berkorban dengan sebutir telur. Jika imam (khatib) telah keluar, para malaikat hadir mendengarkan khutbah (tidak ada yang mencatat siapa yang datang setelah itu). (HR. Muslim).

Karena itu, bila seorang muslim terlambat dalam ibadah Jumat, ia baru datang saat khatib sudah naik mimbar, maka ia terancam tidak dicatat ibadah Jumatnya oleh para malaikat meskipun kewajibannya gugur. Yang menjadi pertanyaan kita adalah sudah berapa puluh tahun seorang muslim ibadah Jumat tapi tidak ada catatannya di buku malaikat, karena kehadirannya itu selalu terlambat,  hal ini disebutkan dalam hadits Rasulullah saw:

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ, وَقَفَتِ الْمَلاَئِكَةُ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ يَكْتُبُوْنَ اْلأَوَّلَ فَاْلأَوَّلَ وَمَثَلُ الْمُهَجِّرِ كَمَثَلِ الَّذِى يُهْدِى بَدَنَةً, ثُمَّ كَالَّذِى يُهْدِى بَقَرَةً, ثُمَّ كَبْشًا, ثُمَّ دَجَاجَةً, ثُمَّ بَيْضَةً،  فَاِذَا خَرَجَ اْلاِمَامُ طَوَوْا صُحُفَهُمْ, يَسْتَمِعُوْنَ الذِّكْرَ.

Jika tiba hari Jumat, para malaikat berdiri di pintu-pintu masjid menulis yang hadir pertama dan yang seterusnya. Dan perumpamaan orang yang berangkat pertama adalah seperti orang yang berkorban seekor unta, kemudian seperti orang yang berkorban sapi, kemudian seekor domba, kemudian seekor ayam, kemudian sebutir telur. Jika imam telah hadir, maka mereka menutup buku catatan dan menyimak dzikir (khutbah). (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah).
            Karena ibadah Jumat jangan sampai dihadiri dengan kondisi terlambat, maka muslim yang sejati tentu mempersiapkan diri dengan sebaik-baik seperti bersih-bersih diri dengan mandi, menggunakan pakaian terbaik, menggunakan minyak wangi hingga potong kuku dan kumis. Lalu bersiap mendengarkan khutbah hingga posisi duduk yang mendekat dengan imam dan menatap khatib sebagai bagian dari keseriusan.
2.  Menghukum Diri Dengan Sedekah.

Keterlambatan hadir dalam ibadah Jumat jangan sampai menjadi kebiasaan. Karenanya, orang yang mau serius dalam hal ini tidak membiarkan dirinya terlambat meskipun hanya sekali. DR. Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya Ruhiyah Ad Da’iyah menceritakan bahwa ketika sahabat Umar bin Khattab tidak ikut shalat ashar berjamaah karena asyik berkebun, maka ia amat menyesali kelalaiannya itu dan iapun memberi hukuman kepada dirinya sendiri dengan cara mewakafkan kebunnya itu yang telah menyebabkannya lalai. Karenanya Umar tidak melakukan hal itu lagi, bahkan ia menegur dan mempertanyakan orang yang tidak hadir dalam shalat berjamaah.

Dalam konteks orang yang terlambat dalam menunaikan ibadah Jumat, meskipun tidak ditegur, ditanyakan apalagi dihukum oleh pengurus masjid, seharusnya seseorang menghukum dirinya sendiri dengan cara bersedekah sesuai dengan kemampuannya sehingga keterlambatan dalam ibadah Jumat tidak terulang kembali, apalagi menjadi kebiasaan, Rasulullah saw bersabda:
مَنْ فَاتَتْهُ الْجُمُعَةُ فَلْيَتَصَدَّقْ بِدِيْنَارٍ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَبِنِصْفِ دِيْنَارٍ
Barangsiapa yang ketinggalan Jumat, maka hendaklah dia bersedekah dengan satu dinar dan jika tidak punya maka hendaklah dia bersedekah dengan setengah dinar (HR. Ahmad, Abu Ya’la, Ibnu Hibban dan Thabrani)
            Dengan demikian, menjadi jelas bagi kita semua betapa penting ibadah Jumat untuk diselenggarakan dengan baik orang panitia dan pengurus masjid, sedangkan jamaah harus mengikuti ibadah ini dengan penuh kesungguhan sehingga dapat ditingkatkan ketaqwaan kepada Allah swt. Atas keterlambatan ibadah Jumat yang terdahulu, bertaubatlah dan semoga Allah swt mengampuni, mulai hari ini kitapun harus bertekad untuk tidak mengulangi lagi sehingga kita pastikan diri kita masing-masing sudah berada di tempat ibadah Jumat paling lambat lima menit sebelum khatib naik mimbar.
Drs. H. Ahmad Yani
Twiter: @H_AhmadYani

Tags: , ,

Drs H Ahmad Yani

Mubalig, Penulis, Trainer Dai Dan Manajemen Masjid, Ketua LPPD Khairu Ummah, Majelis Dai Paguyuban Ikhlas dan Sekretaris Bidang Dakwah PP DMI (Dewan Masjid Indonesia). Komunikasi dan Pesan Buku ke HP/WhatsApp 08129021953 Pin 275d0bb3 Rek BSM 7012350478 BMI 3010008561

0 comments

Leave a Reply