MUMPUNG MASIH MUDA


Judul di atas bisa jadi kalimat yang sering disalahpahami banyak orang. Kesan yang sering ditangkap adalah mumpung masih muda puaskan diri anda dengan maksiat, kalau sudah tua taubat sehingga mati masuk surga. Padahal yang dimaksud bukan demikian. Kesan seperti itu adalah sesuatu yang negatif. Karenanya, melalui tulisan ini paling tidak ada tiga hal yang harus dilakukan oleh siapa saja yang masih berusia muda agar masa tuanya bahagia dan mati masuk surga.

1.  Rutin Beramal Shaleh.
Masa tua adalah masa penurunan dalam banyak hal, apalagi untuk sesuatu yang menuntut gerakan fisik. Selain itu, penurunan juga terjadi untuk sesuatu yang menuntut pengorbanan harta, karena umumnya masa tua membuat orang sudah tidak maksimal dalam mencari nafkah. Namun, bila masa muda diisi dengan amal shaleh secara rutin, misalnya menghadiri majelis ilmu, bersilaturahim, shalat berjamaah di masjid, bersedekah dan sebagainya, maka pada masa tua yang lemah dan membuat seseorang tidak bisa lagi beramal, maka ia akan tetap mendapatkan pahala dari amalnya dikala muda, Rasulullah saw bersabda:
 إِذَا كَبُرَ الْعَبْدُ وَ ضَعُفَ عَنِ الْعَمَلِ كُتِبَ لَهُ مَاكَان يَعْمَلُ فِى شَبِيْبَتِهِ
Jika seorang hamba tua dan tidak kuat lagi beramal, maka dia akan diberi pahala sebagaimana perbuatan  yang telah dilakukan dimasa mudanya (HR. Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas ra).

            Karena itu, amal yang amat bagus untuk kita lakukan sejak muda adalah segala kebaikan yang dilakukan secara rutin atau terus menerus, bahkan hal ini membuat Allah swt sangat menyenanginya, Rasulullah saw: 
أَحَبُّ الْعَمَلِ اِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَدْوَمُهُ وَاِنْ قَلَّ
Amal yang paling dicintai Allah adalah yang langgeng meskipun sedikit (HR. Bukhari).

            Bila amal shaleh sudah dilakukan secara rutin, jangankan ketika seseorang mencapai usia tua, masih mudapun bila mengalami uzur seperti sakit atau bepergian yang membuatnya tidak bisa melakukannya, dia akan tetap mendapat pahala dari amal yang biasa dilakukan, Rasulullah saw bersabda:
إِذَامَرِضَ الْعَبْدُ أَوْسَفَرَكُتِبَ لَهُ مِثْلَ مَاكَان يَعْمَلُ مُقِيْمًا صَحِيْحًا.
Apabila salah seorang hamba sakit atau bepergian (safar), maka Allah mencatat pahalanya seperti pahala amal yang dikerjakannya sewaktu ia sehat atau tidak bepergian (HR. Bukhari).

Bagi seorang muslim sejati, karena amal shaleh harus dilakukan sebanyak-banyaknya dan sebesar-besarnya, maka ia akan terus berusaha untuk tidak hanya rutin dalam kebaikan yang berskala kecil bila ia memang memiliki kemampuan untuk beramal shaleh dalam skala besar, bahkan saat ada kesempatan untuk beramal shaleh, baik dengan pikiran, dana maupun fisiknya ia segera melakukannya tanpa menunda-nunda untuk kesempatan lain, karena pada kesempatan lain masih ada amal shaleh yang harus dilaksanakannya.

2.  Taubat.

Dosa pasti dilakukan oleh manusia, sekecil apapun dosa itu. Namun, pintu taubat selalu terbuka dan Allah swt tidak pernah menutup kesempatan bagi siapapun untuk bertaubat sebelum mati atau kembali kepada Allah swt dengan menyesali kesalahan. Taubat adalah kembali kepada Allah swt, hal ini karena dosa membuat manusia menjadi jauh dengan-Nya meskipun sebenar Dia amat dekat dengan manusia. Karena itu, Allah swt menyenangi siapa saja yang bertaubat, Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ الْمُفْتَتَنَ التَّوَّابَ
Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba mukmin yang terjerumus dosa tetapi bertaubat (HR. Ahmad).

            Karena kematian bisa terjadi kapan saja, bahkan menimpa juga orang-orang yang masih berusia muda, maka akan sangat bagus bila taubat dilakukan tanpa menunggu masa tua, ini akan membuat seseorang lebih dicintai lagi oleh Allah swt, karena ini merupakan sesuatu yang istimewa. Orang tua taubat memang sudah waktunya, karenanya sangat tragis bila orang sudah mencapai usia tua tapi masih juga belum mau bertaubat. Ibarat dalam dunia jurnalistik, orang tua bertaubat bukan berita, tapi yang memiliki nilai berita adalah anak muda yang taubat. Jadi wajar saja bila Allah swt lebih mencintai orang muda yang bertaubat sebagaimana Rasulullah saw bersabda:
مَامِنْ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الشَّبَابِ التاَّ ئِبِ
Tiada sesuatu yang lebih disukai Allah daripada seorang pemuda yang bertaubat (HR. Ad Dailami).

Kesenangan Allah swt kepada orang yang bertaubat sebenarnya untuk kepentingan manusia juga, karena pada dasarnya, Allah swt ingin agar manusia bahagia dalam kehidupannya di akhirat sebagaimana doa yang selalu dipanjatkannya. Kesenangan Allah swt lebih besar daripada kesenangan manusia yang bertaubat. Gambaran kesenangan Allah swt kepada orang yang bertaubat dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya:

اَللهُ أَفرحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيْرِهِ وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضٍ فَلاَةٍ
Sesungguhnya Allah lebih suka menerima taubat seorang hamba-Nya, melebihi dari kesenangan seseorang yang menemukan kembali dengan tiba-tiba untanya yang hilang daripadanya di tengah hutan (HR. Bukhari dan Muslim).

 3.  Tumbuh Dalam Ibadah.

Setiap kita sudah paham bahwa Allah swt menciptakan jin manusia untuk beribadah kepada-Nya. Karena itu sejak kecil hingga remaja, pemuda dan tua, idealnya setiap kita menjalani hidup dalam kerangka pengabdian kepada Allah swt.Untuk itu, apapun yang kita lakukan harus dengan niat yang ikhlas karena Allah, dilakukan dengan cara yang benar sesuai dengan ketentuan-Nya dan tujuannya adalah untuk mencari ridha Allah swt.

Masa muda untuk ibadah bukanlah sesuatu yang mustahil. Karenanya Luqman menasihati anaknya agar selalu dalam ibadah sebagaimana disebutkan dalam surat Luqman. Sekelompok pemuda yang mempertahankan pendirian sampai diabadikan oleh Allah swt kisahnya di dalam surat Al Kahfi, Nabi Ibrahim as juga sudah berjuang sejak ia muda belia bahkan Ismail as menunjukkan ketaatan yang luar biasa meski ia harus disembelih karena itu memang perintah Allah swt. Karena itu para sahabat dan generasi kemudian yang mendambakan kebahagiaan dunia dan akhirat selalu berusaha tumbuh dalam ibadah kepada Allah swt, ini membuat Allah swt memberi penghargaan dengan memberikan perlindungan pada hari kiamat, sesuatu yang amat diperlukan oleh setiap manusia, Rasulullah saw bersabda:

 سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَظِلَّ اِلاَّظِلُّهُ: وَشَابٌّ نَشَأَ فِى عِبَادَةِ اللهِ
Ada tujuh golongan orang yang akan dinaungi Allah yang pada hari itu tidak ada naungan kecuali dari Allah: ... pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, (HR. Bukhari dan Muslim).
4.  Tidak Memperturutkan Hawa Nafsu.

Gejolak nafsu ada pada tiap orang, apalagi pada masa muda. Namun, demi kebaikan dunia dan akhirat, segala macam keinginan harus dikendalikan agar tidak dilampiaskan pada hal-hal yang tidak benar, inilah yang disebut dengan pemuda yang tidak memiliki shabwah yakni pemuda yang tidak memperturutkan hawa nafsunya, dengan membiasakan dirinya melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan. Kepada pemuda yang seperti itu, Allah swt sangat kagum kepadanya sebagaimana Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ
Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memliki shabwah (HR. Ahmad dan Thabrani)
Karena itu, mumpung masih muda, setiap kita harus berusaha menjadi sosok pemuda muslim yang dicintai oleh Allah Ta’ala dengan selalu berusaha menunjukkan kepandaian mensyukuri nikmat yang Allah swt anugrahkan dengan selalu berjuang menundukkan hawa nafsu pada saat gejolak tarikan nafsu sedang kuat-kuatnya. Ini kita akui sebagai sesuatu yang sangat sulit dan berat, namun bukan berarti tidak bisa, hanya memang memerlukan kesungguhan yang besar. Karenanya wajar jika kemudian Allah swt memberikan balasan pahala dan keutamaan yang besar dengan mengaguminya dan mendapat posisi sangat terhormat dihadapan-Nya.
Dengan demikian, dapat kita ambil pelajaran bahwa dalam bidang apapun, masa muda merupakan masa yang amat penting untuk mengukir prestasi hidup. Karenanya bagi orang yang ingin meraih prestasi besar, biasanya kehidupan dijalani begitu efektif sehingga tidak menyia-nyiakan kesempatan. Bila dalam pencapaian prestasi hidup di dunia ini saja manusia begitu bersungguh-sungguh mencapainya, apalagi untuk meraih prestasi hidup dunia dan akhirat yang jauh lebih mulia.
Akhirnya, bagi para pemuda harus berusaha menjalani hidup sebagaimana dikehendaki Allah swt, bagi yang tua harus berusaha mendidik generasi muda agar dapat menjalani hidup sebagaimana mestinya.
Drs. H. Ahmad Yani

HP/WA 08129021953. Pin 275d0bb3 
Tags: , ,

Drs H Ahmad Yani

Mubalig, Penulis, Trainer Dai Dan Manajemen Masjid, Ketua LPPD Khairu Ummah, Majelis Dai Paguyuban Ikhlas dan Sekretaris Bidang Dakwah PP DMI (Dewan Masjid Indonesia). Komunikasi dan Pesan Buku ke HP/WhatsApp 08129021953 Pin 275d0bb3 Rek BSM 7012350478 BMI 3010008561

0 comments

Leave a Reply