PESAN MORAL (3)

Pesan-pesan dakwah bisa disampaikan melalui media sosial. Meskipun sudah saya sampaikan dan disebarluaskan, tidak ada salahnya saya sampaikan melalui media ini dengan tambahan uraian yang diperlukan. Bila kita mau, maka pesan-pesan dakwah bisa kita sampaikan kepada banyak orang dengan cara yang mudah.  
1.  Seperti Wanita.
Sampaikan pada Sule, Aziz Gagap, Olga dan para pelawak serta waria agar jangan tampil sebagai wanita, khawatir saja bila dilaknat Allah dan tidak diakui sebagai umat Nabi Muhammad saw. Rasulullah saw bersabda:
لَعَنَ اللهُ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لُبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لُبْسَةَ الرَّجُلِ
Allah melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki (HR. Abu Daud)
Dalam hadits lain, Rasulullah saw bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِالرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ وَلاَ مَنْ تَشَبَّهَ بِالنِّسَاءِ مِنَ الرِّجَالِ
Bukan golongan kami perempuan yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai perempuan (HR. Ahmad).
            Hadits di atas sangat jelas pesannya. Seorang lelaki muslim tidak boleh berpenampilan seperti wanita, demikian pula sebaliknya. Kenapa demikian?. Karena di dalam Islam, laki-laki dan wanita memiliki kerakter dan kedudukan yang sangat berbeda, apalagi dalam konteks hokum Islam. Beberapa hal bisa kita jadikan sebagai rujukan. Pertama, laki-laki harus menikah dengan wanita, bukan wanita dengan wanita atau laki-laki dengan laki-laki, ini merupakan sesuatu yang sangat tercela sehingga dari sisi apapun tidak bisa dibenarkan. Kedua, dalam pernikahan laki-laki menjadi wali dan saksi, bukan wanita. Ketiga, dalam pembagian harta waris, bagian laki-laki dua bagian, sedangkan wanita satu bagian. Keempat, dalam shalat berjamaah yang terdapat wanita di dalamnya, laki-laki yang berhak menjadi imam dan khatib, karenanya laki-laki tidak boleh berimam kepada wanita.
2.  Pakaian Sempit
Ketika seseorang makin gede, yang ia rasakan adalah baju dan celananya terasa sempit dan ketat. Karenanya, pakaian itu diberikan dan dipakai oleh adiknya yang lebih kecil. Tapi sekarang justeru banyak orang yang menggunakan pakaian adiknya sehingga nampak begitu ketat, terutama wanita, padahal pakaian wanita itu bukan sekadar menutup tubuh, tapi juga longgar.
Memakai pakaian yang sempit terutama bagi wanita tidak dibenarkan, karena hal itu terlalu memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh, padahal maksud berpakaian adalah untuk menutupi tubuh sehingga pria terhindar dari rangsangan tubuh wanita. Dalam konteks berpakaian, kriteria yang harus mendapat perhatian besar dari para wanita adalah longkar dan tidak tembus pandang.
3.  Dusta Dalam Canda.
Sampaikan kepada pelawak dan siapa saja yang suka bercanda, termasuk para mubalig bahwa berdusta merupakan pengkhianatan yang besar, maka kecelakaanlah bagi pelakunya, apalagi bila hal itu dilakukan agar orang lain tertawa, Rasulullah saw bersabda:
وَيْلٌ لِلَّذِيْ يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيَضْحَكَ بِهِ الْقَوْمُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ.
Celaka bagi orang yang berbicara, kemudian berdusta supaya orang-orang mentertawakannya, celaka dia, celaka dia (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa’I).
            Berdusta atau berbohong sudah banyak dilakukan manusia, tapi sebagai muslim kita punya prinsip untuk tidak melakukannya. Hal ini karena, tanggungjawab dihadapan Allah swt ada pada masing-masing orang, tidak bisa kita lemparkan kepada orang lain. Inilah, mengapa kita tidak bisa mengatakan: “karena orang-orang berbohong, sayapun ikut berbohong.”
Sebagai muslim, kita harus mewaspadai akan kemungkinan melakukan dusta, karena bila seseorang sudah melakukan dusta, maka dia akan melakukan dusta berikutnya guna mempertahankan dirinya dari kemungkinan dianggap salah oleh orang lain, semakin banyak orang yang bertanya kepadanya tentang apa didustakan, sebanyak itu pula dosa yang dilakukannya, bahkan seorang yang berdusta bisa melakukan hal-hal yang lebih buruk lagi hingga mengantarkannya ke dalam neraka, Rasulullah Saw bersabda:
اِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَاِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى اِلَى الْفُجُوْرِ وَاِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِى اِلَى النَّارِ
Jauhilah dusta, karena sesungguhnya dusta itu membawa pada kedurhakaan dan sesungguhnya kedurhakaan itu akan menunjuki manusia ke neraka (HR. Bukhari).
            Satu hal yang harus kita sadari, bila dalam bercanda saja kita jangan sampai berdusta, apalagi dalam hal-hal yang menuntut keseriusan. Yang lebih buruk lagi adalah berdusta tapi seolah-olah jujur atau benar sehingga ia bersumpah dengan menyebut nama Allah swt, ini merupakan salah satu bentuk kejahatan orang munafik yang harus diwaspadai. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa al Julas bin Suwaid merupakan salah seorang yang tidak ikut dalam perang Tabuk. Dia berkata: “Seandainya orang ini benar, tentu kita lebih buruk daripada keledai.”
Ucapan tersebut dilaporkan kepada Nabi saw, tetapi ia justeru bersumpah bahwa ia tidak mengatakan hal itu.
Dalam kasus lain, Qatadah menceritakan bahwa ada dua orang berkelahi, salah satunya dari Juhainah, sedang yang lain dari Ghifar. Kebetulan, suku Juhainah adalah sebutu Anshar. Ketika orang dari suku Ghifar itu mengalahkan lawannya dari suku Juhainah, Abdullah bin Ubay berkata kepada suku Aus: “Bantulah saudara kalian. Demi Allah, perumpamaan antara kita dengan Muhammad tidak lain lain seperti  kata pepatah: “Gemukkan anjingmu, pasti dia memangsamu.”
Seorang dari kaum muslimin pergi melaporkan ucapan itu kepada Rasulullah saw. Beliau lalu memanggilnya dan menanyainya. Tapi dia bersumpah bahwa dia tidak mengatakan demikian.
Peristiwa lain adalah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Anas bin Malik bahwa Zaid bin Arqam mendengar seorang munafik berkata ketika Nabi berkhutbah: “Kalau orang ini benar, sungguh kita lebih buruk ketimbang keledai.” Lalu ia menyampaikan hal itu kepada Nabi Muhammad saw, tapi orang itu menyangkal telah berkata demikian.
Kejadian lain diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas ra bahwa suatu ketika Rasulullah saw sedang duduk di bawah pohon. Beliau berucap: “Sebentar lagi akan datang seseorang yang memandang dengan pandangan mata syaitan.”
Tiba-tiba muncul seseorang yang berpakaian biru, beliau memanggilnya dan bertanya: “Mengapa kamu dan kawan-kawanmu mencaciku?.”
Orang itu segera pergi dan mengajak kawan-kawannya, lalu bersumpah bahwa mereka tidak berkata begitu, hingga akhirnya beliau melepaskan mereka.
Atas beberapa peristiwa di atas, Allah swt kemudian menurunkan firman-Nya:   Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. (QS At Taubah [9]:74).
4.  Turut Gembira.
Kalau ada orang menikah setiap kita harus turut gembira, bukan hanya karena seseorang sudah mendapat pasangan hidup, tapi yang lebih penting adalah karena salah satu syariat Islam masih dijunjung tinggi, karena banyak orang sudah seperti suami isteri padahal belum melakukan akad nikah.
Kehadiran kita memenuhi undangan akad nikah dan resepsi, mendoakan dan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dan orang tuanya hingga memberi hadiah merupakan diantara tanda kegembiraan kita atas adanya pernikahan.
Penyebab kegembiraan kita yang terbesar bukan karena seseorang telah menadapati pasangan hidupnya semata, tapi syariat Islam berupa akad nikah yang masih dijunjung tinggi. Sudah terlalu banyak perzinahan terjadi, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Dampak negatif sudah dirasakan dan terbukti mulai dari banyaknya kasus pengguguran kandungan, kekacauan dalam rumah tangga, pembunuhan hingga penyakit HIV/AIDS yang menakutkan dunia.
Karena itu, ketika sahabat Abdurrahman bin Auf baru diketahui telah menikah, maka Rasulullah saw menganjurkan melakukan walimah (resepsi) agar banyak orang yang tahu dan merasakan kegembiraan, bahkan beliau sampai mengatakan: “meskipun hanya menye,belih seekor kambing
Drs. H. Ahmad Yani
HP 08129021953.

 Pin 275d0bb3/7cd9c56a
Tags:

Drs H Ahmad Yani

Mubalig, Penulis, Trainer Dai Dan Manajemen Masjid, Ketua LPPD Khairu Ummah, Majelis Dai Paguyuban Ikhlas dan Sekretaris Bidang Dakwah PP DMI (Dewan Masjid Indonesia). Komunikasi dan Pesan Buku ke HP/WhatsApp 08129021953 Pin 275d0bb3 Rek BSM 7012350478 BMI 3010008561

0 comments

Leave a Reply