60 PESAN RAMADHAN

Ramadhan merupakan bulan dakwah, bulan dimana aktivitas dakwah mengalami peningkatan. Melalui masjid, mushall, kerohanian Islam hingga radio, televisi dan media sosial pesan-pesan dakwah tersiar sehingga umat Islam tercerahkan dan termotivasi  untuk menjalani hidup yang lebih baik menurut ajaran Islam. Karena itu, kami hadirkan buku 60 Pesan Ramadhan.
Buku setebal xii+243 Hal dijual dengan harga Rp 65.000 berukuran 15 x 23,5 cm. Buku ini menyajikan 60 tema keislaman yang sangat cocok untuk disampaikan dalam ceramah tarawih, kuliah subuh, ceramah zuhr bahkan dalam berbagai forum dakwah yang tidak hanya terkait Ramadhan. Ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami dan mudah pula mendakwahkannya. Diantara contoh tema yang dibahas adalah:

DIBAWAH NAUNGAN AL-QUR’AN
Kaum Muslimin Rahimakumullah.
Salah satu sebutan atau nama yang diberikan kepada bulan Ramadhan yang mulia adalah syahrul Qur’an atau bulan Al-Qur’an. Hal ini bukan hanya mengingatkan kita bahwa Al-Qur’an itu diturunkan pertama kali pada bulan Ramadhan, tapi juga mengingatkan kita untuk semakin memperkokoh komitmen kita kepadanya dalam kehidupan ini. Manakala kehidupan ini sudah kita jalani sebagaimana petunjuk-petunjuk yang terdapat di dalam Al-Qur’an, ini berarti kita hidup di bawah naungan Al-Qur’an.
Sayyid Quthb, dalam tafsirnya Fi Dzilalil Qur’an menyebutkan bahwa hidup di bawah naungan Al-Qur’an adalah nikmat, kenikmatan yang tidak bisa dirasakan kecuali oleh orang-orang yang menghayatinya, kenikmatan yang dapat mengangkat derajat manusia, memberkati dan membersihkan kehidupan ini dari segala bentuk kekotoran.
Ada banyak manfaat yang dapat kita peroleh dari hidup di bawah naungan Al-Qur’an. Sekurang-kurangnya, kita bisa menyimpulkannya menjadi tiga. Pertama,  kehidupan kita menjadi terbimbing. Hal ini karena meskipun manusia memiliki akal pikiran yang cerdas, tapi tidak menjamin baginya memiliki kemampuan membedakan antara yang haq dengan yang bathil atau yang benar dan yang salah, padahal kemampuan membedakan antara yang haq dengan yang bathil merupakan sesuatu yang amat penting menuju kehidupan yang baik. Karena itu manusia amat memerlukan bimbingan yang benar, baik dalam berpikir, bersikap maupun bertingkah laku. Sudah begitu banyak manusia yang tidak berpikir, bersikap dan bertingkah laku secara benar karena tidak mau mengambil bimbingan dari Al-Qur’an.
Karena tidak mengambil bimbingan dari Al-Qur’an, banyak manusia yang tersesat dalam masalah ketuhanan sehingga menuhankan benda-benda yang memiliki sejumlah kelemahan seperti manusia dan patung, pohon, dan jenis-jenis berhala lainya, Allah swt berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ عِبَادٌ أَمْثَالُكُمْ فَادْعُوهُمْ فَلْيَسْتَجِيبُوا لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka Serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka mmperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.(QS Al A’raf [7]:194).
Dengan sebab tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai pembimbing hidup, maka banyak manusia yang dalam masalah hukum tidak mendapatkan perlakuan hukum dan tidak bisa menegakkan hukum secara adil. Kasus-kasusnya begitu banyak mulai dari maling ayam dan maling sandal yang dikeroyok massa lalu dianiaya dan dibakar hingga mati, sementara disisi lain, ada orang yang bersalah dengan kesalahan yang besar tapi tidak dihukum yang sesuai dengan tingkat kesalahannya, bahkan sampai ada yang dibebaskan begitu saja dan begitulah seterusnya, akibatnya terjadi kekacauan dalam tatanan kehidupan masyarakat sebagaimana yang kita rasakan sekarang ini.
Dalam masalah akhlak, akibat tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai pembimbing hidup, telah terjadi kehancuran tata nilai kehidupan sehingga begitu banyak kasus-kasus  yang mengerikan dan mengkhawatirkan bagi peradaban manusia dimasa datang mulai dari perzinahan yang merajalela, pengguguran kandungan yang kian banyak, narkoba yang terus merusak generasi bangsa, pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, pencurian, korupsi dan sejenisnya yang kian merusah citra masyarakat dan berbagai bentuk kerusakan akhlak lainnya yang kesemua itu membuat masa depan masyarakat dan bangsa semakin mengkhawatirkan, hal ini karena akibat negatif yang ditimbulkan dari kerusakan akhlak, bukan hanya menimpa mereka mereka yang jauh dari Al-Qur’an tapi juga bisa terjadi pada mereka yang hidupnya sejalan dengan nilai-nilai Al-Qur’an.
 Oleh karena itu, Al-Qur’an yang akan membawa kenikmatan dalam kehidupan manusia dalam hidupnya berfungsi sebagai petunjuk atau pembimbing agar manusia dapat membedakan antara yang haq dengan yang bathil, Allah swt berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
Bulan Ramadhan adalah bulan yang diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan atas petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan yang bathil). (QS Al Baqarah [2]:185).
Dengan bimbingan Al-Qur’an manusia akan terangkat derajatnya, teratur dalam hidupnya, mulia kepribadiannya dan dapat mencapai kebahagiaan yang hakiki, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Jamaah Sekalian Yang Berbahagia.
Kedua yang merupakan manfaat dari hidup di bawah naungan Al-Qur’an adalah memiliki kemampuan untuk mengatasi berbagai persoalan hidup. Hidup yang kita jalani ini hampir tidak pernah sepi dari berbagai persoalan, satu persoalan belum teratasi, tapi sudah muncul persoalan berikutnya. Orang yang tidak mengambil bimbingan dari Al-Qur’an menjadi bingung dalam menghadapi persoalan itu, kebingungan mengakibatkan kekalutan dan kekalutan membuatnya melakukan tindakan-tindakan yang tak terkendali yang ujungnya adalah merugikan dirinya dan orang lain, bahkan bukan hanya kerugian di dunia ini saja tapi juga di akhirat nanti. Ada banyak contoh yang bisa kita ungkap, misalnya kebingungan dalam menghadapi persoalan ekonomi membuat seseorang menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Bahkan banyak kasus bunuh diri yang dilakukan oleh seseorang hanya karena terhimpit persoalan ekonomi yang besar, padahal bunuh diri akan membawanya pada kesengsaraan sepanjang masa dalam kehidupan berikutnya di akhirat. Disamping itu kekalutan juga membuat seseorang melakukan tindak kekerasan yang tidak pada tempatnya, bahkan tidak sedikit suami yang bertindak kasar kepada isterinya atau isteri terhadap suaminya, orang tua terhadap anaknya, bahkan anak terhadap orang tuanya dan sesama anggota masyarakat  yang semestinya saling hormat menghormati dan cinta mencintai.
Sementara bagi orang yang hidup dibawah naungan Al-Qur’an, dia amat yakin bahwa segala kesulitan dan persoalan hidup pasti ada jalan keluarnya, apalagi hal ini merupakan janji Allah swt yang tidak mungkin salah, Allah swt berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا.  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ
Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka (QS At Thalaq [65]:2-3).
Bahkan di penghujung ayat 4 dari surat yang sama, Allah swt berjanji:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya dijadikan baginya kemudahan dalam urusan-urusannya (QS At Thalaq [65]:4).
Dengan demikian, Al-Qur’an diturunkan oleh Allah swt untuk menjadi obat, penawar dan penyembuh berbagai dari berbagai persoalan hidup manusia sehingga mendatangkan rahmat Allah swt, namun orang-orang yang berlaku zalim semakin menderita bila manusia menjalani hidupnya dibawah naungan Al-Qur’an, Allah swt berfirman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلا خَسَارًا
Dan kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian (QS Al Isra [17]:82).
Kaum Muslimin Rahimakumullah.
Manfaat ketiga yang bisa kita dapat dari hidup di bawah naungan Al-Qur’an adalah kehidupan kita menjadi bersih. Pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan suci bersih tanpa noda dan dosa sedikitpun, Islam tidak mengenal ada istilah dosa keturunan dari orang tua terhadap anaknya. Namun tanpa bimbingan Al-Qur’an kehidupan manusia menjadi kotor, kotor jiwanya, kotor pikirannya dan kotor perbuatannya.
Jiwa yang kotor telah melahirkan sikap-sikap buruk seperti riya atau ingin mendapatkan pujian dari orang lain, hasad atau iri hati terhadap kemajuan dan keberhasilan yang dicapai orang lain lain, takabbur atau menyombongkan diri dengan sebab merasa memiliki kelebihan pada dirinya dan sebagainya. Sementara pikiran yang kotor telah membuat manusia menjadi orang yang menganggap baik perbuatannya yang buruk, ketentuan yang benar dianggapnya sebagai hambatan dan sebagainya. Sedangkan perbuatan atau amal yang kotor telah mengakibatkan peradaban manusia menjadi begitu rendah, bahkan bisa lebih rendah dari binatang ternak yang biasanya nilainya ditentukan hanya dengan ukuran berat badan. Bahkan secara fisik, kekotoran manusia dalam bertingkah laku juga mengakibatkan malapetaka yang amat besar. Karena itu perhatikanlah bagaimana perzinahan telah menyebabkan penderita AIDS yang sedemikian mengkhawatirkan, pengguguran kandungan dan sebagainya.
Adapun hidup di bawah naungan Al-Qur’an, maka kehidupan manusia menjadi bersih, bersih jiwanya dengan selalu mengutamakan keikhlasan, husnuzhzhan atau berbaik sangka terhadap orang lain, tawadhu atau rendah hati terhadap orang lain, meskipun orang itu lebih rendah kedudukannya, jujur yang dapat menghangatkan hubungan persaudaraan, tawakkal atau berserah diri kepada Allah setelah berusaha seoptimal mungkin yang akan membawa sikap optimis dan sebagainya. Disamping itu bersih juga pikirannya sehingga yang dipikirkannya adalah hal-hal yang akan membawa manfaat dan kebaikan atau kebenaran, baik bagi dirinya, keluarga maupun masyarakat, bangsa dan agamanya, sedangkan bersih perbuatan adalah apapun yang dilakukannya, semua berorientasi kepada amal yang shaleh sebab amal yang shaleh merupakan bekal yang amat penting dalam kehidupan di akhirat nanti. Kehidupan yang bersih seperti inilah yang akan membukakan dan mendatangkan keberkahan baik dari langit maupun dari bumi, Allah swt berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS Al A’raf [7]:96).
Oleh karena itu hidup di bawah naungan Al-Qur’an, disamping memberikan kenikmatan lahir dan batin, jasmani dan rohani, juga dapat meneropong kehidupan ini, mana jalan yang benar dan mana jalan yang salah, mana bahagia dan mana sengsara, mana kemajuan dan mana keterbelakangan, mana keadilan dan mana kezaliman dan begitulah seterusnya.
Dari sini, semakin kita sadari dan nharus kita akui bahwa ajaran Islam yang indah dan nikmat ternyata terhalang keindahan dan kenikmatannya itu oleh sikap dan prilaku umat Islam, akibatnya tidak sedikit manusia, bahkan umat Islam sendiri yang takut terhadap penegakan nilai-nilai dan syariat Islam. Karenanya tidak aneh kalau upaya penegakannya ditentang sendiri oleh sebagian kaum muslimin, bahkan bukan karena mereka awam terhadap Islam dan Al-Qur’an, tapi karena memang mereka tidak berada di bawah naungan Al-Qur’an itu sendiri.
Demikian pesan Ramadhan kita pada hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama, amien.
Untuk Lebih Jelas tentang buku ini bisa dilihat juga pada daftar isinya
Kata Pengantar
Daftar Isi
1.       Marhaban Ya Ramadhan
2.      Bulan Istimewa
3.      Rahasia Puasa
4.      Pengaruh Ibadah Ramadhan.
5.      Keberkahan Hidup
6.      Generasi Terburuk
7.      Mewaspadai Permusuhan
8.     Menghadapi Era Globalisasi
9.      Keyakinan Terhadap Islam
10.  Hakikat Jahiliyah
11.   Kiat-Kiat Meraih Rahmat Allah (1)
12.  Kiat-Kiat Meraih Rahmat Allah (2)
13.  Mensyukuri Rahmat Allah
14.  Lima Nasihat Nabi
15.   Empat Permintaan
16.  Tujuan Al-Qur’an
17.   Di Bawah Naungan Al-Qur’an
18.  Fungsi Al-Qur’an.
19.  Strategi Syaitan
20. Antara Nyamuk dan Fasik
21.  Menuruti Hawa Nafsu
22. Urgensi dan Cara Muhasabah
23. Mengukut Ketenangan Jiwa
24. Kelompok Yang Mendapat Nikmat
25.  Makan Yang Baik dan Bersyukur
26. Membuang Sifat Hasad
27.  Upaya Membersihkan Jiwa
28. Mempertajam Kepekaan Jiwa
29. Cinta Dunia
30. Meraih Ridha Allah
31.  Dunia Butuh Islam.
32. Upaya Kafirin Dalam Menghancurkan Muslim.
33. Iman, Ilmu dan Amal.
34. Penyempurna Iman
35.  Ujian Orang Beriman.
36. Taqarrub Ilallah.
37.  Membangun Masyarakat Islam (1).
38. Membangun Masyarakat Islam (2).
39. Keutamaan Shalat Berjamaah.
40. Shalat Berjamaah di Masjid.
41.  Membangun Generasi Qur’ani.
42. Menjaga Kehormatan
43. Islamisasi Diri.
44. Cara Syaitan Dalam Menyesatkan Manusia.
45.  Syaitan Musuh Utama Orang Beriman.
46. Tanggungjawab Dakwah.
47.  Keistimewaan Dakwah.
48. Bangga Sebagai Muslim.
49. Faktor Penyebab Manusia Ingkar.
50. Mengenal dan Meneladani Rasul.
51.   Keharusan Mengatasi Kemiskinan.
52.  Kiat Islam Dalam Mengatasi  
53.  Hikmah Zakat.
54.  I’tikaf, keutamaan dan Programnya.
55.  Taqwa dan Keuntungannya.
56.  Profil Orang Bertaqwa.
57.  Misi Nabi Muhammad saw.
58. Tindak Lanjut Sesudah Ramadhan.
59.  Hakikat Kembali Kepada Fitrah
60. Kembali Kepada Fitrah. 

===============================================================
Harga Buku ini Rp 65.000 + ongkos kirim. Pesan langsung ke Ust. Ahmad Yani 08129021953. Pin 27d0bb3/7cd9c56a, Transfer dana ke Rek BSM 7012350478. BMI 3010008561 an Ahmad Yani. BRI Kebon Jeruk 0377-01-003124-53-5 an Drs. H Ahmad Yani, buku dikirim via pos, Jakarta bisa dikirim kurir dan bayar di tempat

==============================================================
Tags: , ,

Drs H Ahmad Yani

Mubalig, Penulis, Trainer Dai Dan Manajemen Masjid, Ketua LPPD Khairu Ummah, Majelis Dai Paguyuban Ikhlas dan Sekretaris Bidang Dakwah PP DMI (Dewan Masjid Indonesia). Komunikasi dan Pesan Buku ke HP/WhatsApp 08129021953 Pin 275d0bb3 Rek BSM 7012350478 BMI 3010008561

0 comments

Leave a Reply