DARI PONDOK PINANG HINGGA AMSTERDAM


Menulis merupakan aktivitas yang amat berguna. Segala hal bisa ditulis sehingga ide, ilmu dan pengalaman hidup tidak berlalu begitu saja. Apa yang ditulis bisa menjadi pesan kebaikan, inspirasi, pencerahan dan bahan dakwah. Ust. Drs. H. Ahmad Yani adalah salah seorang mubaligh yang melakukan hal itu, 34 judul buku telah diterbitkannya, satu diantara yang terbaru adalah buku setebal 225 hal: JALAN HIDUP, Catatan Dakwah Dari Pondok Pinang Hingga Amsterdam.
 Dalam kata pengantar buku ini, DR. H. Edi Sukardi, Dekan FKIP Uhamka menyatakan: Tidak banyak jumlah dai yang piawai di atas mimbar, pandai pula menyampaikan dakwah melalui tulisan (dakwah bil qalam). Ust. Ahmad Yani termasuk kelompok yang sedikit itu. Karya-karya Ust. Ahmad Yani adalah goresan pena yang enak dibaca, menarik, logis, bernas, kadang kocak. Ia memang penulis yang sangat produktif. Buku yang kini sedang kita baca adalah tentang masa kecil, kehidupan keluarga dan masyarakat yang membentuk ia sebagai seorang dai. Pengalaman masa kecil yang sulit dan kehidupan masyarakat kultur Betawi, mewarnai corak dakwahnya.
Buku yang menggambarkan perjalanan hidup dan perjalanan dakwah ini ditulis dengan gaya santai dan kocak. Ust. Ahmad Yani juga sangat hormat dan kagum pada orang-orang yang berprestasi walau pun prestasi itu mungkin levelnya tingkat kampung, tapi ia memahami disisi Allah swt kemulyaan itu karena ketakwaan. Diantaranya, dalam buku ini beliau tulis tentang Kong H. Amang. Ust. Ahmad Yani memang dai dan penulis yang punya talenta. Saya mengenalnya sangat dekat, karena Ust. Ahmad Yani adalah adik kandung saya. Ia anak nomor tiga dari enam bersaudara.
Buku ini terdiri dari lima bagian, antara lain: Anak Betawi, Jalan Dakwah, Pantun Dakwah, Masjid dan Jumat serta Pesan Moral.
Sebagai Anak Betawi, ada 31 judul yang diceritakannya, tentu ada inspirasi dan hikmah yang kita peroleh. Misalnya tentang Saya Harus Jadi Khatib:
 Masjid Darussalam berada persis di depan rumah saya. Sejak kecil bila shalat Jumat saya duduk di shaf 3 atau 4, duduk di tengah sejajar dengan mimbar kayu jati ukiran Jepara, wakaf dari Keluarga H. Djahran. Seingat saya, kalau sudah jam 11.30 masjid sudah penuh dengan jamaah. Ketika itu yang mendapat giliran menjadi Khatib adalah H.M. Ali yang tinggal di Gang Bidan. Gang itu disebut Gang Bidan karena ada Bidan Ibu Najmi yang berpraktek di rumahnya. 
Saat waktu Jumat tiba, H. Ali belum ada di depan mimbar, karena ia datang terlambat meski belum masuk waktu zuhr, ia merasa kurang etis untuk masuk ke barisan depan dengan melewati shaf-shaf yang sudah penuh, sementara masjid tidak ada pintu depan yang langsung masuk ke tempat imam. Maka Engkong H. Abd Rahman berinisiatif menggantikannya, beliau memang biasa membaca khutbah Jumat, iapun naik ke mimbar. Dalam berkhutbah, beliau selalu menggunakan buku khutbah yang berbahasa Arab, makanya disebut membaca khutbah, sedangkan H. Ali biasanya berkhutbah dengan teks tulisan tangan dengan Arab Melayu. Buku tulisnya sama dengan yang digunakan anak sekolah, bergaris-garis dengan sambul berwarna biru dongker.
Setelah mengucap salam, H. Abd Rahman duduk di atas mimbar, Adzanpun dikumandangkan oleh orang yang disebut Bilal. Saya perhatikan ia merogoh-rogoh kantong (saku) bajunya, ternyata buku khutbah yang dicarinya tidak ada, mungkin karena bukan gilirannya sehingga ia tidak membawa buku khutbah. Di mimbar juga tidak ada buku khutbah setelah dicarinya, adzanpun selesai dan mestinya khutbah sudah dimulai. Ternyata H. Abd Rahman tidak bisa memulai khutbah karena tidak ada bukunya yang harus dibaca.          
Kepada para khatib yang duduk di shaf pertama ia bertanya: "ada yang bawa buku khutbah nggak?."   
Mereka menjawab “tidak ada.”
Maka engkong KH. Salim yang menjadi ketua dewan imam dan khatib bertanya: "Emang ini giliran siapa?."
H. Abd Rahman menjawab: "Giliran H. Ali."
Kata kong H. Salim: "coba panggil, ada apa tidak H. Ali," serunya.
Maka dipanggillah H. Ali, ternyata dia menyahut: "ada" dan Kong H. Salim meminta jamaah memberi jalan untuk H. Ali masuk. Sehingga H. Abd Rahman turun dari mimbar dan H. Ali naik ke mimbar untuk berkhutbah.
Sejak saat itulah, tertanam keinginan besar saya: "saya harus bisa jadi khatib, masa sih tidak ada buku/teks khutbah sampai tidak bisa berkhutbah."  
Alhamdulillah saya bisa berkhutbah meski tanpa teks sejak mahasiswa. Saya bersyukur bisa menyaksikan peristiwa yang dialami kong H. Abd Rahman dan mengambil hikmahnya. Bahkan saya tidak hanya bisa berkhutbah dan ceramah, tapi juga menulis banyak buku khutbah dan ngajarin atau mengkader para khatib dan mubaligh di berbagai daerah di penjuru negeri.
Pada bab Jalan Dakwah, beliau bercerita tentang dakwahnya di berbagai wilayah di Indonesia hingga ke luar negeri seperti Belanda, Swedia, Jepang dan Australia. Cerita-cerita menarik inipun membuka pikiran dan menggugah perasaan bahwa dakwah merupakan tanggungjawab yang mulia, penting dan amat dibutuhkan umat manusia. Pada bagian ini, beliau juga menceritakan tentang keadaan negara yang dikunjunginya, sesuatu yang amat berbeda dengan di negeri kita.
Bagian 3 buku ini tentang Masjid dan Jumat, 10 topik ditulis dalam bab ini mulai dari Ahok dan trauma masjid, infak toilet, speaker masjid, melayani jamaah masjid hingga kebaktian Jumat dan ibadah Jumat yang memprihatinkan. 
Pada bagian 4, Pantun Dakwah akan kita rasakan sentuhannya. 40 pantun tentang iman, akhlak, hukum dan korupsi, ibadah dan masyarakat. Agar anda bertambah penasaran, ini salah satu pantunnya:
Ira Maya Duduk di Kursi
Berkelana Sampai Madura
Bila Kaya Hasil Korupsi
Dunia Hina, Akhirat Sengsara
Bagian 5 tentang Pesan Moral. 33 topik menarik dan menyentuh disampaikan oleh penulisnya. Misalnya tentang Istiqamah di Lampu Merah.
 Lampu lalu lintas merah menyala. Motor yang di depan, kanan dan kirinya sudah nyelonong menerabas. Motor yang satu ini tidak mau ikut nerabas meski kendaraan di belakangnya sudah membunyikan klakson agar maju menerabas karena memungkinkan baginya melakukan hal itu. Tapi ia diam saja disitu sampai lampu hijau menyala, baru ia berjalan. Ini juga namanya istiqamah (mempertahankan diri dalam kebenaran) meski sudah banyak dan dianggap biasa pelanggaran seperti itu dilakukan.
Kebenaran merupakan nilai yang tidak terbantahkan, baik dari Allah swt maupun dari sesama manusia. Masyarakat dunia tentu sudah sepakat bahwa lampu lalu lintas merupakan ketentuan yang tidak terbantahkan kebaikan dan kebenarannya untuk mengatur tertib berlalu lintas. Karena itu, istiqamah pada ketentuan ini di jalan raya menjadi keharusan bagi setiap orang yang menggunakan jalan raya.
Memiliki prinsip yang benar dan berpegang teguh pada prinsip itu merupakan sesuatu yang sangat ditekankan. Ini membuat kita tidak ikut-ikutan orang yang tidak benar, meskipun jumlah jumlah mereka banyak, bahkan sangat banyak. Rasulullah saw bersabda:
لاَتَكُوْنُوْا اِمَّعَةً تَقُوْلُوْنَ: اِنْ اَحْسَنَ النَّاسُ اَحْسَنَّا وَاِنْ ظَلَمُوْا ظَلَمْنَا وَلكِنْ وَطِّنُوْا اَنْفُسَكُمْ اِنْ اَحْسَنَ النَّاسُ اَنْ تُحْسِنُوْا وَاِنْ اَسَائُوْا اَنْ لاَتَظْلِمُوْا.
Janganlah kamu menjadi orang yang “ikut-ikutan” dengan mengatakan kalau orang lain berbuat kebaikan, kamipun akan berbuat baik, dan kalau mereka berbuat zalim. Tetapi teguhkanlah dirimu dengan berprinsip; kalau orang lain berbuat kebaikan, kami berbuat kebaikan pula dan kalau orang lain berbuat kejahatan kami tidak akan melakukannya (HR. Tirmidzi).
Untuk lebih jelas gambaran isi buku ini, berikut daftar isinya:
Kata Pengantar DR. H. Edi Sukardi
Kata Pengatar Penulis
ANAK BETAWI
1.         Tidak Jadi Digusur
2.         Kue Setampah Tumpah
3.         Saya Harus Jadi Khatib
4.         Es Mang Dudung
5.         Antri Berkat
6.         Tidur Di Kasur Yang Terbakar
7.         Ngaduk Dodol
8.         Motong Kebo
9.         Mudik
10.       Pendaringan
11.        Tidak Jadi Pulang Haji
12.       Ribut Soal Air Zamzam
13.       Sepekan Tanpa Mandi dan Beabe
14.       Bahasa Simbol
15.       Ngawinin Itu Sedekahan
16.       Penganten Betawi
17.       Mau Jadi Penganten
18.       Rebana Haji Entong
19.       Menghormati Undangan
20.      Berkat Palsu
21.       Seradung
22.       Mantan Wasit Ngurus Mayat
23.       Masjid Haji Shomad
24.       Puasa Tapi Makan Pue Putu
25.       Latihan Baca Amiin
26.       Ujung Berung
27.       Kong Kodir
28.      Salut Buat Kong Haji Amang
29.       Rujak Buni
30.      Bukan si Doel
31.       Belajar Dari Ayah
JALAN DAKWAH
1.         Dari Pulau Ke Pulau
2.         Ramadhan di Belanda 1: Negeri Penuh Maksiat
3.         Ramadhan di Belanda 2: Masa Depan Islam Di Belanda
4.         Ramadhan di Belanda 3: Geliat Islam Di Eropa
5.         Ramadhan di Swedia
6.         Lebaran di Negeri Sakura
7.         Ramadhan di Sydney 1
8.         Ramadhan di Sydney 2
9.         Catatan Dari Sydney
MASJID DAN JUMAT
1.         Ahok dan Trauma Masjid
2.         Infak Toilet
3.         Speaker Masjid
4.         Melayani Jamaah
5.         Khatib dan Jamaah
6.         Kebaktian Jumat
7.         Jumat Agung, Sabtu Maksiat
8.         Tidak Jumat di Masjid Sendiri
9.         Jumat Yang Memprihatinkan
10.       Terlambat Jumat
11.        Subuh Berjamaah
12.       Tawaf Pengurus Masjid
PANTUN DAKWAH
1.         Pantun Iman dan Akhlak
2.         Pantun Hukum dan Korupsi
3.         Pantun Ibadah
4.         Pantun Masyarakat
PESAN MORAL
1.         Istiqamah di Lampu Merah
2.         Melawan Arus
3.         Penjajah
4.         Negara dan Maksiat
5.         Pencitraan
6.         Bahan Pembicaraan Yang Baik
7.         Banyak Bicara, banyak Bekerja
8.         Berlebihan
9.         Alasan
10.       Beda Pendapat
11.        Dikit dan Banyak
12.       Seperti Wanita
13.       Pakaian Sempit
14.       Dusta Dalam Canda
15.       Turut Gembira
16.       Agustusan
17.       Jangan Bangkrut
18.       Jepang dan Waktu
19.       Tidak Ada Tempat
20.      Ustadz Daun Salam
21.       Tiang Masjid dan Asbak Rokok
22.       Kelebihan dan Kekurangan
23.       Mario Gotze
24.       Mengkhianati Doa
25.       Menyesal kalau Ketahuan
26.       Baik Sangka
27.       Basa Basi Soal Waktu
28.      Ta’jil
29.       Nobar
30.      Muka-Muka Baru
31.       Sikap Tegas
32.       Al Maidah
33.       Batu
=======================================================
Harga Buku ini Rp 40.000+ ongkos kirim. Pesan langsung ke Ust. Ahmad Yani 08129021953 & 081283761455. Pin 275d0bb3/7cd9c56a, Transfer dana ke Rek BSM 7012350478. BMI 3010008561 an Ahmad Yani. BRI Kebon Jeruk 0377-01-003124-53-5 an Drs. H Ahmad Yani, buku dikirim via pos, Jakarta bisa dikirim kurir dan bayar di tempat

=======================================================
Tags: , , ,

Drs H Ahmad Yani

Mubalig, Penulis, Trainer Dai Dan Manajemen Masjid, Ketua LPPD Khairu Ummah, Majelis Dai Paguyuban Ikhlas dan Sekretaris Bidang Dakwah PP DMI (Dewan Masjid Indonesia). Komunikasi dan Pesan Buku ke HP/WhatsApp 08129021953 Pin 275d0bb3 Rek BSM 7012350478 BMI 3010008561

0 comments

Leave a Reply