DIMANA ADA DIA, DISITU ADA DAKWAH, Mengenang Ust. Drs. H. Toto Tasmara


Drs. H. Toto Tasmara adalah salah seorang guru saya yang istimewa. Ia wafat Hari selasa kemarin setelah shalat zuhur dan hendak menshalatkan jenazah keponakannya yang wafat di Palembang, Sumatera Selatan dalam usia 67 tahun. Menurut Deni, anak pertanya, saat memulai shalat jenazah itulah, pada takbir pertama ia tersungkur jatuh dan wafat.

Wafatnya istimewa dan jalan hidupnya juga istimewa, tidak hanya bagi saya, tapi bagi banyak orang, baik yang bertakziyah dan mengantar jenazahny di pemakaman Tanah Kusir maupun yang tidak sempat. Sejumlah tokoh dan aktivis dakwah hadir hingga ke pemakaman Tanah Kusir, mereka antara lain DR. Arif Rahman (tokoh pendidikan), Hamdan Zoelva (Mantan Ketua MK), KH. Anwar Sanusi, KH. Ridwan Lubis, MS. Ka’ban (Mantan Ketua PBB), Dipo Alam, dll.

Dalam sambutannya, Dipo Alam bercerita bahwa Toto Tasmara adalah satu satu dari 700 aktivis yang dipenjara tanpa pengadilan pada masa orde baru. Beliau selalu melaksanakan shalat berjamaah di dalam penjara. Aktivitas dakwah kembali mengantarkannya masuk penjara karena dakwahnya yang "menyengat" dan "mengusik" stabilitas penguasa pada waktu itu. Baginya, penjara adalah sebuah "pesantren" tempat ber-uzlah 'menyendiri' sehingga ia mampu melakukan perenungan dan melahap ratusan buku dengan tenang, begitu cerita sahabat-sahabatnya.

Rumah Pengkaderan.

Saya mulai mengenal Ust. H. Toto Tasmara saat memasuki usia remaja tahun 1982. Masjid Darussalam Pondok Pinang di depan rumah saya cukup aktif. Toto Tasmara yang mendirikan BKPM (Badan Komunikasi Pemuda Masjid) tahun 1976 bersama Tatang Natsir, Jimli Ash Shiddiqi sering berkumpul di Masjid. BKPM kemudian ditambah Indonesia menjadi BKPMI. Dalam situasi sulit, BKPMI berkantor di pintu masuk yang Aula Masjid Al Azhar Kebayoran Baru yang ditutup. YISC Al Azhar, RISKA Sunda Kelapa dan Remaja Masjid Cut Meutia setahu saya tiga remaj masjid yang menopang BKPMI.

 Sebagai seorang aktivis dakwah, Toto Tasmara mengkader banyak anak muda. Situasi keamanan yang sulit bagi para aktivis Islam di masa orde baru tidak menyurutkannya untuk terus berdakwah. Disitulah kreatifitas dakwah sangat dibutuhkan. Ketika Mall mulai tumbuh dan banyak anak muda suka ke mall ketimbang ke masjid, ia menggagas dan melakukan dakwah Dakwah at Mall (DAM). Ketika banyak anak muda suka nongkrong di jalan, iapun menggagas dan melakukan Dakwah on the Street (DOS), bahkan ketika masih banyak anak muda yang tidak mau ke masjid, iapun bikin pengajian yang diberi nama dengan Kuliah Taman, pengajian santai yang dilakukan dibawah pohon dan di atas rumput. Gelar tikar, menggunakan papan tulis kertas dan spidol menjadi model pengajian yang disenangi teman-teman remaja saat itu.

Ketika saya sekolah di Madrasah Aliyah, keterlibatan saya dengan Toto Tasmara lebih banyak lagi. Bersama Pak Syarifudin, Guru Agama SMEA 9 Pondok Pinang, kami mendapat kepercayaan untuk membina Rohani Islam untuk para siswa sekolah itu, kegiatan pesantren kilat, shalat jumat hingga bimbingan baca Al Quran dan pengajian dilakukan.

Pengembangan kegiatan terus berlanjut, Toto Tasmara mengembangkan Labmend (Laboratory for Management and Mental Development). Labmend bergerak di bidang pelatihan manajemen dan spiritual. Saya diminta menjadi asisten Manajer dan Widiyanto sebagai sekretaris. Pengembangan pesantren kilat yang ditekuninya sejak tahun 80-an, Super Achievement Motivation dan Etos Kerja (SAMTEK), Tarbiyatul Qolbu, Kepemimpinan Situasional, Kuliyatul Mubalighin, dan Kristologi, merupakan paket-paket andalan. Labmend menyelenggarakan berbagai kegiatan pelatihan yang dirancang khusus untuk para pemuda, pelajar, dan mahasiswa, termasuk program rehabilitasi korban narkoba dengan metode pencerahan hati yang dipusatkan di Pesantren Al-Magfirah, Gunung Gelius, Gadog, Bogor.

Banyak kegiatan yang dilakukan, secara pribadi saya mendapatkan ilmu dan pengalaman yang luar biasa, selain dari PII (Pelajar Islam Indonesia) yang era tahun 1987-1989 saya menjadi Ketua Wilayah Jakarta. Semua kegiatan itu direncanakan dan dimatangkan dari rumah beliau di Jl. H. Muhi Pondok Pinang. Bersamaan dengan itu, saya juga menjadi guru ngaji bagi Putera-Puterinya. Dari situ pula beberapa keluarga di Jl. H. Muhi meminta saya menjadi guru ngaji bagi anak-anak mereka. Bahkan sayapun diminta menjadi guru ngaji untuk temannya sekantor di Kemang dan anak temannya di Simprug Golf.

Setelah beliau membangun rumah yang lebih besar lagi, kegiatan teman-teman menjadi lebih leluasa dan bisa dihadiri oleh lebih banyak anak muda. Tidak berlebihan kalau saya mengatakan rumahnya adalah rumah pengkaderan. Tapi, demi dakwah pula rumah itu dijual, saya terputus komunikasi dan rupanya ia pergi berdakwah ke Amerika Serikat sekitar 6 tahun. Alhamdulillah saya mendapatkan kembali Nomor Handponenya dan bisa berkunjung ke rumahnya setelah pulang dari Amerika, bahkan saya sempat memintanya mengisi Kursus dakwah yang saya selenggarakan di Khairu Ummah yang saya pimpin.

Dakwah dan Kerja.

Kerja untuk mendapatkan penghasilan adalah suatu kewajiban. Toto Tasmara menunjukkan etos kerja yang luar biasa bagus meskipunia begitu aktif dalam dakwah. Setahu saya ia bekerja di : PT Richardson Merrel, Singer, perusahaan mesin jahit yang terkenal pada masa itu, ia duduk sebagai Direktur Pemasaran. Setelah itu ia bekerja di Nixdorf Komputer di Plaza Kuningan, lalu menjadi Vice Presiden di Bank Duta dan Humpuss. Suara-suara miring saya dengar juga dari banyak orang ketika ia bekerja di Humpus milik Tomy Soeharto, ia dianggap sebagai sudah menjadi bagian dari keluarga Cendana.

Saya mengambil hikmah dari kerjanya yang berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain, ia membawa misi dakwah, karena memang dengan posisinya yang bagus ia bisa menghidupkan dakwah di perusahaan tersebut, padahal saat itu orang takut untuk menunjukkan keislaman karena memang situasi politik saat itu tidak berpihak kepada Islam, tokoh-tokoh Islam dicurigai, kegiatan dakwah selalu dipantau oleh intel-intel, apalagi kegiatan di masyarakat harus mendapatkan surat izin dari pihak keamanan. Karena itu, kesemarakan dakwah di perkantoran tidak lepas dari perannya, apalagi yang mempelopori kumandang adzan ke seluruh lantai di Gedung Bank Duta.

Saya dan teman-teman bangga kepadanya, karena saat itu ia seorang “dai yang berdasi.” Karenanya tidak berlebihan bila saya mengatakan “dimana ada dia, disitu ada dakwah.”  Dakwahnya menarik, menyemangati, memotivasi, mencerahkan. Sering saya dekat nasihatnya: “Jadi orang Islam jangan jumud, berpikir sempit dan tidak mau melihat ada perbedaan.”

Teori dan Praktek.

Kesan lain yang perlu saya kemukakan, Toto Tasmara seorang dai yang memiliki kemampuan lengkap. Di kampus saya belajar komunikasi dan retorika dakwah, tapi sang dosen justeru tidak komunikatif dalam berbicara dan tidak pandai berceramah. Di kampus saya belajar jusralistik, tapiu sang dosen tidak produktif dalam menulis. Toto Tasmara mengajarkan bagaimana retorika berceramah dan itu ditunjukkannya dengan dakwah yang hidup dan menarik. Toto Tasmara mengajarkan manajemen dakwah dan itu dipraktekanhya. Toto Tasmara mengajarkan idealisme keislaman dan itu dijalaninya. Toto Tasmara mengajarkan dakwah yang Ikhlas dan itu dibuktikan dengan tidak ada komersialisasi dakwah. Toto Tasmara mengajarkan dakwah harus terus berlanjut dan itu diwujudkannya dengan inovasi dan kreatifitas dalam dakwah. Dalam dakwah, ada saat ia menggambar, ada saat ia bercerita, ada saat ia berpuisi, ada saat ia menyanyi bahkan lengkap dengan gitarnya.

Saya belajar kepadanya bagaimana berdakwah, tapi hanya sedikit yang bisa saya tiru, dan itu saya syukuri dan terus dikembangkan. Beliau telah memberi inspirasi dan keteladan tidak hanya bagi saya, tapi bagi banyak dai muda.

Menulis Untuk Dakwah

Toto Tasmara adalah satu diantara sedikit dai yang berdakwah dengan tulisan. Ketika ia bekerja di Bank Duta ia berdakwah dengan membuat buletin, begitu juga ketika di Humpus. Tulisan-tulisannya dikumpulkan menjadi buku Percikan Iman. Beliaupun menulis di Koran dan Majalah. Tulisannya di kolom Hikmah Republika diminati berbagai kalangan karena gaya tulisannya yang menyentuh. beberapa buah buku sudah diterbitkan, diantaranya Komunikasi Dakwah, Ethos Kerja Pribadi Muslim, Tantangan Zaman, Dajal dan Simbol Setan, Menuju Muslim Kaffah: Menggali Potensi Diri, Kepemimpinan, 60 materi kultum untuk semua momentum, Yahudi: Mengapa Mereka Berprestasi, dll.

Menulis di koran-koran sudah lama dilakukan, bisa jadi sejak mahasiswa. Ketika masih di rumahnya yang lama, saya melihat kliping tulisan-tulisannya dari berbagai koran.

Kita berharap, setelah Ust. Toto Tasmara akan tumbuh kader-kader dakwah yang lebih baik dari beliau, apalagi dakwah itu semakin lama semakin berat. Selamat Jalan Ust. Toto, semoga Allah swt mengampuni, merahmati dan memasukkan ke surga yang penuh dengan kenikmatan. Kita lanjutkan perjuangan dakwah, menegakkan nilai-nilai Islam.

Drs. H. Ahmad Yani

HP 08129021953 & 081283761455
Tags: , ,

Drs H Ahmad Yani

Mubalig, Penulis, Trainer Dai Dan Manajemen Masjid, Ketua LPPD Khairu Ummah, Majelis Dai Paguyuban Ikhlas dan Sekretaris Bidang Dakwah PP DMI (Dewan Masjid Indonesia). Komunikasi dan Pesan Buku ke HP/WhatsApp 08129021953 Pin 275d0bb3 Rek BSM 7012350478 BMI 3010008561

1 comments

  1. Masya Allah kontribusinya banyak sekali dari zaman orde baru sampai orde reformasi.

Leave a Reply