MEREKA YANG MENCINTAI HARTA

Ketika kita memberi, kadang-kadang bahkan seringkali yang kita berikan itu adalah sesuatu yang tidak kita cintai lagi. Bisa jadi ada orang memberi makanan yang sudah tiga hari dimakan tapi belum juga habis, akhirnya ia pun memberikannya pada orang lain sambil mengatakan “daripada basi, sudah diberi ke tetangga saja.” Bila besok tidak basi, mungkin ia tidak memberikannya. Ada lagi, bila terjadi bencana atau musibah seperti kebakaran dan kebajiran, orangpun memberikan pakaian layak pakai. Bagi orang yang tertimpa musibah, bisa jadi pakaian itu memang layak pakai, tapi bagi yang memberikan, justeru sudah tidak layak pakai bagi dirinya. Dengan kata lain, jangan sampai yang kita berikan itu adalah sesuatu yang kita sendiri sudah tidak menyukainya. Karenanya Allah swt berfirman: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.(QS Ali Imran [3]:92).
Setelah turun ayat ini, para sahabat terhentak, merekapun ingin sekali berinfak atau sedekah dari sesuatu yang amat mereka cintai. Harta yang mereka sendiri masih amat mencintainya.

Abu Thalhah dan Kebun Bairuha.

Dalam hadits riwayat Bukhari, Anas bin Malik ra berkata: Abu Thalhah adalah orang yang paling banyak hartanya dari kalangan Anshar di kota Madinah berupa kebun kurma dan harta benda yang paling dicintainya adalah Bairuha' (sumur yang ada di kebun itu) yang menghadap ke masjid, Rasulullah saw sering mamemasuki kebun itu dan meminum airnya yang baik.
Abu Thalhah mendatangi Rasulullah saw lalu berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha' itu dan aku mensedakahkannya di jalan Allah dengan berharap kebaikan dan simpanan pahala di sisi-Nya, maka ambillah wahai Rasulullah sebagaimana petunjuk Allah kepadamu."
Rasulullah saw kemudian bersabda: “Wah, inilah harta yang menguntungkan, inilah harta yang menguntungkan. Sungguh aku sudah mendengar apa yang kamu niatkan dan aku berpendapat sebaiknya kamu sedekahkan buat kerabatmu."
Maka Abu Thalhah berkata: "Aku akan laksanakan wahai Rasulullah. Maka Abu Thalhah membagi untuk kerabatnya dan anak-anak pamannya." Diantara mereka adalah Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Ka’ab.

Suhaib Bin Sinan Meninggalkan Harta

Shuhaib bin Sinan adalah anak seorang walikota Ubullah pada masa raja Persi yang bernama Kisra. Keluarganya pindah ke Irak sebelum Islam datang. Karena jabatan ayahnya yang penting, Shuhaib hidup dengan kesenangan harta benda yang berlimpah di istana yang megah.
            Tapi suatu ketika orang-orang Romawi melakukan serangan terhadap negerinya dengan persenjataan lengkap dan sebagian penduduknya diculik, termasuk Shuhaib bin Sinan. Ia selanjutnya diperjual belikan oleh saudagar-saudagar budak belian lalu hidup di Romawi hingga masa remaja. Ia dibebaskan oleh majikannya dari kedudukannya sebagai budak karena ketertarikan majikannya akan kecerdasan, kerajinan dan kejujuran.
            Setelah dibebaskan, Shuhaib mendapat kesempatan berdagang di kota Makkah. Mendengar ada agama baru yang disebarkan oleh Nabi Muhammad saw, ia menjadi sangat tertarik lalu pergi menuju rumah Arqam sebagai tanda bahwa ia memang mau masuk Islam, di sana tempat yang dijadikan oleh Rasulullah untuk mengajarkan Islam kepada sahabat-sahabatnya.
            Di pintu rumah Arqam, Shuhaib bertemu dengan sahabat Ammar bin Yasir: “mau bertemu siapa kamu?.” tanya Ammar.
            “Kamu mau bertemu siapa?,” jawab Shuhaib balik bertanya.
            “Saya hendak bertemu Muhammad untuk mendengar kata-katanya,”  jawab Ammar.
            “Saya juga begitu,” jawab Shuhaib.
            Setelah Rasul menjelaskan tentang ajaran Islam, Shuhaib mengulurkan tangannya kepada Rasul dan menyatakan diri masuk Islam, padahal ia tahu apa akibat yang akan dihadapinya sebagai muslim yang selama ini dimusuhi oleh orang-orang kafir Quraisy. Tapi memang begitulah panggilan iman.
            Menjadi muslim yang sesungguhnya memang bukan urusan mudah, Shuhaib yang sejak kecil hidup dalam keadaan senang, setelah menjadi muslim ia tergolong orang yang teraniaya dan tersiksa, sementara harta yang dimilikinya harus digunakan untuk tebusan para budak yang disiksa majikannya.
            Tanggungjawab Shuhaib sebagai muslim memang tidak pernah diragukan, pertemuan para sahabat dengan Rasulullah selalu diikutinya, peperangan melawan kaum kafir selalu disertainya, bila pasukan muslim mengalami kesulitan ia selalu menuju ke tempat itu dan mengatasinya dan bila Rasulullah berada dalam jangkauan musuh-musuhnya ia berusaha menghalanginya.
            Diantara kisah yang cukup mengagumkan adalah ketika ia hendak hijrah ke Madinah. Menurut rencana ia akan mendampingi Rasulullah dalam perjalanan bersama Abu Bakar, tapi ia terjebak dalam perangkap orang-orang kafir sehingga ia tertawan, namun ketika mereka lengah, ia segera naik ke punggung untanya dan memacu sekencang-kencangnya. Orang-orang kafir itu sangat marah dan memburunya, ketika mereka hampir berhasil, Shuhaib berseru: ‘kalian tahu, saya adalah ahli panah, kalian tak akan berhasil mendekati diriku sebelum kulepaskan semua anak panah ini, setelah itu aku menggunakan pedang untuk menebas kalian sampai semua senjata di tanganku habis. Majulah kalian kalau berani. Atau kalau kau setuju kutunjukkan tempat penyimpanan hartaku, kalian bisa mengambil harta itu tapi membiarkanku pergi ke Madinah.”
            Ternyata mereka lebih setuju dengan pilihan kedua, tempat harta itupun ditunjukkan dan Shuhaib menuju Madinah dengan leluasa. Bahagia sekali beliau karena berhasil menyusul dan menemui Nabi saw. Saat duduk dikelilingi oleh para sahabat, baik sahabat dari Madinah maupun dari Makkah. Rasulullah saw menyambutnya dengan gembira dan penuh haru lalu turunlah ayat Al-Qur’an: Dan diantara manusia ada yang bersedia menebus dirinya demi mengharapkan ridha Allah, dan Allah maha Penyantun terhadap hamba-hambaNya” (QS Al-Baqarah [2]:207).
            Shuhaib memang menebus dirinya dengan harta yang sejak lama dicarinya selama hidup di Makkah, demi mendapat ridha Allah dan ia tidak merasa rugi sedikitpun. Baginya apa artinya harta berlimpah kalau iman tergadai oleh mereka yang kafir.

Abu Bakar Membebaskan Budak.

Banyak cara yang bisa dilakukan orang berharta untuk berderma sehingga hartanya memberi manfaat yang berarti.
Amir bin Abdullah bin Zubair menceritakan sebagaimana diriwayatkan oleh Al Hakim bahwa sahabat Abu Bakar Ash Shiddik dikenal sebagai orang kaya karena kedermawanannya. Setiap kali ada budak yang lemah masuk Islam, dia selalu memerdekakannya dengan menebusnya meskipun dengan harga yang mahal. Ayahnya Abu Bakar Abu Quhafah bertanya kepadanya: “Apa maksudmu membebaskan orang-orang yang lemah itu?.”
Abu Bakar menjawab: Sesungguhnya aku mengharap pahala dari Allah swt.” Lalu turunlah firman Allah swt: Demi malam apabila menutupi (cahaya siang),  dan siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah (QS Al Lail [92]:1-7).

Ali Bin Abi Thalib dan Empat Dirham

Ketika seseorang memiliki harta, maka ia bisa menginfakkannya kapan saja yang dikehendakinya.
Ibnu Abbas ra menceritakan sebagaimana diriwayatkan oleh Abdurrazaq, Ibnu Jarir, Ibnu Abi hatim dan At Thabrani bahwa Ali bin Abi Thalib mempunyai uang sebanyak empat dirham. Iapun menginfakkannya satu dirham pada waktu malam, satu dirham pada waktu siang, satu dirham secara sembunyi-sembunyi dan satu dirham secara terang-terangan.
Selain itu sahabat Abdurrahman bin Auf dan Usman bin Affan menginfakkan harta mereka kepada tentara muslim dalam perang Tabuk, infak mereka sangat banyak sesuai dengan harta yang mereka miliki.
Maka turunlah firman Allah swt:  Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(QS Al Baqarah [2]:274).
            Dengan demikian, mencintai harta bukan berarti pemiliknya menjadi bakhil atau pelit, tapi ia ingin agar harus itu betul-betul menjadi miliknya sehingga menginfakkan harta di jalan kebaikan membuat nilai dari harta itu betul-betul menjadi pemiliknya. Betulah para sahabat yang mencintai harta tapi tidak terbelenggu oleh harta itu.


Drs. H. Ahmad Yani
Dapatkan Buku 110 Kisah Seputar Harta, Rp 40.000+ongkos. Pesan ke 08129021953. Anda Pesan Kami Kirim, Rek BSM (451) 7012350478. BMI (147) 3010008561. BRI (002) 0377-01-003124-53-5. BNI 0426589296 an Ahmad Yani
Tags: , ,

Drs H Ahmad Yani

Mubalig, Penulis, Trainer Dai Dan Manajemen Masjid, Ketua LPPD Khairu Ummah, Majelis Dai Paguyuban Ikhlas dan Sekretaris Bidang Dakwah PP DMI (Dewan Masjid Indonesia). Komunikasi dan Pesan Buku ke HP/WhatsApp 08129021953 Pin 275d0bb3 Rek BSM 7012350478 BMI 3010008561

0 comments

Leave a Reply