TIGA POIN DALAM KHUTBAH SETAHUN

Ini merupakan buku khutbah Ust. Drs. H. Ahmad Yani yang anda butuhkan. Semua topiknya membahas tiga poin, mudah dipahami dan mudah pula untuk disampaikan lagi. Harganya Rp 100.000+ongkos. Tebal 446 halaman. Buku terbaru ini merupakan karya yang 37 atau buku khutbah yang kelima. Hard cover dengan kertas bookpaper sehingga terasa begitu enteng dipegang. Yang mau pesan ke 0812-9021-953 & 0812-8376-1455.

DAFTAR ISI
TIGA POIN DALAM KHUTBAH SETAHUN
  1. Tiga Bentuk Perbaikan
  2. Tiga Akibat Menunda Amal
  3. Tiga Doa Nabi
  4. Tiga Model Orang Bangkrut
  5. Tiga Kekasih Ilahi
  6. Tiga Karakter Syaitan
  7. Tiga Perintah Syaitan
  8. Tiga Bahaya Berteman Dengan Syaitan
  9. Tiga Syarat Dalam Barisan Mukmin.
  10. Tiga Gangguan Di Jalan
  11. Tiga Keteladanan Nabi
  12. Tiga Amal Yang Timbangannya Berat
  13. Tiga Nasihat Suami
  14. Tiga Faktor Keselamatan
  15. Tiga Virus Yahudi
  16. Tiga Virus Kemunafikan
  17. Tiga Lingkup Baik sangka
  18. Tiga Faktor Yang Menjauhkan Neraka
  19. Tiga Dusta Yang Dibolehkan
  20. Tiga Bentuk Manfaat
  21. Tiga Amal Yang Amat Buruk 1
  22. Tiga Amal Yang Amat Buruk 2
  23. Tiga Amal Yang Amat Buruk 3
  24. Tiga Kunci Meraih Rahmat
  25. Tiga Berkorban Yang Menjerumuskan
  26. Tiga Orang Yang Berhak Ditolong
  27. Tiga Amal Yang Dicintai
  28. Tiga Cerita Dari Isra Mi’raj
  29. Tiga Akhlak Iman
  30. Tiga Penegasan Nabi
  31. Tiga Cara Menggembirakan Orang Yang Sudah Mati
  32. Tiga Rahmat Allah Dari Harta
  33. Tiga Perbedaan Puasa Generasi Terdahulu
  34. Tiga Karakter Taqwa
  35. Tiga Manfaat Dzikir
  36. Tiga Keadaan Yang Harus Diwaspadai 1
  37. Tiga Keadaan Yang Harus Diwaspadai 2
  38. Tiga Keadaan Yang Harus Diwaspadai 3
  39. Tiga Keadaan Yang Harus Diwaspadai 4
  40. Tiga Bentuk Perbuatan Zalim 1
  41. Tiga Bentuk Perbuatan Zalim 2
  42. Tiga Bentuk Perbuatan Zalim 3
  43. Tiga Alasan Tidak Berbuat 1
  44. Tiga Alasan Tidak Berbuat 2
  45. Tiga Dialog di Padang Mahsyar
  46. Tiga Orang Paling Tersiksa 1
  47. Tiga Orang Paling Tersiksa 2
  48. Tiga Hikmah Haji dan Qurban
  49. Tiga Orang Yang Rugi dan Hina
  50. Tiga Sebab Tidak Diakui Sebagai Umat Nabi Muhammad 1
  51. Tiga Sebab Tidak Diakui Sebagai Umat Nabi Muhammad 2
  52. Tiga Sebab Tidak Diakui Sebagai Umat Nabi Muhammad 3
  53. Khutbah Idul Fitri: Tiga Komitmen Yang Harus Dikuatkan.
  54. Khutbah Idul Adha: Tiga Semangat Muslim Untuk Mencegah Kehancuran Umat dan Bangsa.
Salah satu contoh khutbahnya sebagai berikut

TIGA AKIBAT MENUNDA AMAL
Kaum Muslimin Yang Berbahagia.
Kesempatan hidup di dunia ini adalah untuk beramal shaleh. Dengan amal shaleh yang banyak, maka kita memiliki bekal yang banyak untuk bisa berjumpa kepada Allah swt saat kematian yang pasti terjadi. Betapa besar kerugiaan yang dirasakan orang mati bila ia tidak membawa bekal amal shaleh. Karena itu, amat disayangkan atas begitu banyak orang dan bisa jadi kita juga yang suka menunda apa yang seharusnya segera kita laksanakan, dan yang lebih tragis adalah kita sampai tidak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.
Salah satu prinsip yang harus kita jalankan dalam beramal shaleh adalah melakukan amal shaleh sesegera mungkin, jangan suka ditunda-tunda. Rasulullah saw menegaskan dalam hadits dari Abu Hurairah ra:
بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” (HR. Muslim no. 118).
Dalam hadits di atas dikabarkan bahwa akan datang fitnah seperti potongan malam, fitnah yang tidak terlihat sehingga manusia tidak tahu kemana harus berjalan dan tidak tahu juga kemana jalan keluar dari suatu persoalan.Bahkan, pagi hari orang dalam keadaan taat sebagaimana seharusnya seorang mukmin, tapi pada sore hari sudah durhaka sebagaimana umumnya orang kafir, mereka bisa menjadi kafir karena menjual agamanya, yakni menukar agama dengan harta, kekuasaan, kedudukan, bahkan dengan perempuan atau berbagai kepentingan duniawi lainnya.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah.
Paling tidak, ada tiga akibat yang menjadi kerugian bagi kita bila amal shaleh ditunda-tunda. Pertama, Kehilangan atau paling tidak kekurangan Motivasi. Motivasi adalah sesuatu yang mendorong kita untuk melakukan sesuatu. Ketika kita punya motivasi, maka semangat melakukannya masih tinggi. Karena itu, mumpung motivasi tinggi, segeralah melakukan kebaikan yang hendak kita lakukan, bila kita sudah kehilangan motivasi maka kitapun tidak punya semangat untuk melakukan kebaikan. Karenanya, salah satu ciri orang shaleh adalah bersegera melakukan kebaikan, Allah swt berfirman:
يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُولَئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ
Mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang shaleh (QS Ali Imran [3]:114).
Menunda kebaikan atau amal yang harus kita lakukan bisa berakibat malas untuk melakukannya. Ketika uang masih banyak, semangat berinfak mungkin masih tinggi, karena kita belum khawatir kekurangan uang, tapi ketika ditunda lalu uang sudah jauh berkurang, maka timbullah rasa malas, bila motivasi sudah hilang, bisa jadi kitapun akhirnya tidak berinfak, tapi karena masih ada sedikit motivasi, akhirnya kitapun masih mau berinfak meski jumlahnya sangat sedikit, apalagi ciri orang taqwa memang harus menginfakkan harta baik saat sempit (sedikit harta) maupun saat lapang (banyak harta), Allah swt berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ. الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.(QS Ali Imran [3]:133-134).
Bersegera dalam kebaikan membuat kita mendapatkan tambahan motivasi untuk bersegera pula dalam amal shaleh yang lain, tapi menunda kebaikan yang harus kita lakukan membuat kita kekurangan motivasi hingga menghilangkan motivasi untuk melakukan amal berikutnya yang seharusnya kita lakukan.
Jamaah Sekalian Yang Berbahagia.
Kedua yang merupakan akibat bila kita menunda amal yang harus kita lakukan adalah Kehilangan Keutamaan. Amal shaleh memang harus kita lakukan secepat mungkin, tidak ditunda-tunda, apalagi amal yang memang jauh lebih baik bila dilakukan lebih cepat, misalnya saja kehadiran dalam ibadah Jumat seperti sekarang ini, Allah swt berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allâh dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (QS al Jumuah [62]:9).
Karena itu, bila seorang muslim terlambat dalam ibadah Jumat, ia baru datang saat khatib sudah naik mimbar, maka ia terancam tidak dicatat ibadah Jumatnya oleh para malaikat, hal ini disebutkan dalam hadits Rasulullah saw:
إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ, وَقَفَتِ الْمَلاَئِكَةُ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ يَكْتُبُوْنَ اْلأَوَّلَ فَاْلأَوَّلَ وَمَثَلُ الْمُهَجِّرِ كَمَثَلِ الَّذِى يُهْدِى بَدَنَةً, ثُمَّ كَالَّذِى يُهْدِى بَقَرَةً, ثُمَّ كَبْشًا, ثُمَّ دَجَاجَةً, ثُمَّ بَيْضَةً،  فَاِذَا خَرَجَ اْلاِمَامُ طَوَوْا صُحُفَهُمْ, يَسْتَمِعُوْنَ الذِّكْرَ.
Jika tiba hari Jumat, para malaikat berdiri di pintu-pintu masjid menulis yang hadir pertama dan yang seterusnya. Dan perumpamaan orang yang berangkat pertama adalah seperti orang yang berkorban seekor unta, kemudian seperti orang yang berkorban sapi, kemudian seekor domba, kemudian seekor ayam, kemudian sebutir telur. Jika imam telah hadir, maka mereka menutup buku catatan dan menyimak dzikir (khutbah). (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah).
Selain kehilangan keutamaan, menunda apa yang harus segera kita lakukan juga membuat kita menjadi tercela, misalnya menunda bayar utang bila kita memang sudah punya kemampuan, baik utang kepada seseorang maupun utang kepada instansi seperti belum bayar listrik dan sebagainya. Hal ini menjadi tercela karena termasuk kezaliman, Rasulullah saw bersabda:
مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ وَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِيْءٍ فَلْيَتْبَعْ
Penundaan pembayaran utang oleh orang yang mampu adalah kezhaliman. Dan apabila salah seorang dari kalian dialihkan (pembayaran utangnya) kepada orang kaya, maka hendaklah ia menerima pengalihan itu (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah).
Kaum Muslimin Rahimakumullah.
Akibat Ketiga bila kita menunda amal adalah kehilangan momentum atau kesempatan. Setiap orang diberi kesempatan yang sama oleh Allah swt, yakni 24 jam setiap harinya. Tapi ada yang menggunakan waktu dengan baik untuk beramal shaleh, namun banyak pula orang yang melewatkan waktu begitu saja tanpa manfaat dan hasil yang baik. Karena itu, mumpung masih ada kesempatan, seorang muslim harus bersegera melakukan sejumlah kebaikan, ketika sudah kehilangan momentum, maka manusia akan mengalami penyesalan yang sangat dalam, Allah swt berfirman:
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ. وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh” Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (al-Munafiqun [63]:10-11)
Bahkan karena penyesalan begitu dalam, meski waktu sudah tidak memungkinkan lagi, tetap saja manusia meminta diberi kesempatan, Allah swt berfirman:
يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولا
Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata Kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul" (QS Al Ahzab [33]:66).
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak contoh tentang orang yang kehilangan momentum. Misal ada orang punya saudara, tetangga atau teman yang sakit, ia ingin menjenguknya tapi tidak bersegera, ketika ia ingin menjenguknya ternyata yang sakit sudah sembuh atau sudah meninggal dunia. Ada lagi orang yang punya utang, tidak segera ia membayarnya dan ternyata yang memberi utang sudah pindah tempat tinggalnya dan ia tidak tahu lagi dimana alamatnya dan tidak punya nomor kontaknya, lebih tragis lagi adalah bila yang berutang yang meninggal dunia dan keluarganya tidak ada yang tahu bila ia punya utang.
  Ada lagi yang amat menyesal bahkan sampai ke akhirat nanti adalah orang yang meraih kekuasaan tapi tidak digunakan kekuasaannya itu untuk kemaslahatan atau kebaikan masyarakat. Bahkan jangankan di akhirat nanti, di dunia ini saja ia sudah menyesal, kekuasaan hanya untuk pencitraan dirinya sehingga dusta demi dusta dilakukannya. Akibatnya, amat berbeda antara kenyataan di masyarakat dengan opini yang dibentuknya, Rasulullah saw bersabda:
إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى اْلإِمَارَةِ وَسَتَصِيرُ نَدَامَةً وَحَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَبِئْسَتْ الْمُرْضِعَةُ وَنِعْمَتْ الْفَاطِمَةُ
Sesungguhnya kalian akan berlomba-lomba mencari kekuasaan lalu kalian akan menyesal dan merugi pada hari kiamat, maka sungguh buruk yang sedang menyusui dan sungguh baik orang yang telah disapih. (Ahmad dari Abu Hurairah ra).
Karena itu, Rasulullah saw sudah mengingatkan kita untuk tidak mengabaikan lima kesempatan sebelum datang lima keadaan berikutnya, dalam satu hadits beliau bersabda:
إِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَشَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ
Peliharalah lima perkara sebelum datang lima perkara yang lain: masa hidupmu sebelum maut datang menjemputmu, masa sehatmu sebelum penyakit datang menimpamu, masa senggangmu sebelum datang masa sibukmu, masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa kayamu sebelum datang masa faqirmu (HR. Hakim, Baihaki dan Ahmad).
            Semoga sisa waktu dalam hidup dapat kita efektifkan untuk pengabdian kepada Allah swt dan kemaslahatan atau manfaat bagi banyak orang.
            Demikian khutbah Jumat kita yang singkat hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama, amin.
Tags: , , ,

Drs H Ahmad Yani

Mubalig, Penulis, Trainer Dai Dan Manajemen Masjid, Ketua LPPD Khairu Ummah, Majelis Dai Paguyuban Ikhlas dan Sekretaris Bidang Dakwah PP DMI (Dewan Masjid Indonesia). Komunikasi dan Pesan Buku ke HP/WhatsApp 08129021953 Pin 275d0bb3 Rek BSM 7012350478 BMI 3010008561

0 comments

Leave a Reply